MU Tak Dapat Penalti, Solskjaer: Wasit Terpengaruh Pihak Luar

Baca Juga

MATA INDONESIA, LONDON – Pelatih Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer kecewa dengan keputusan wasit yang tak memberikan timnya penalti. Solskjaer menilai, wasit terpengaruh dari pihak luar.

Berlaga di Stamford Bridge, Minggu 28 Februari 2021 malam WIB, MU bermain imbang tanpa gol lawan Chelsea. Dari statistik, bisa dibilang kedua tim memang berimbang.

Chelsea melepaskan 11 tendangan dimana enam di antaranya tepat sasaran, sementara MU melepaskan delapan tendangan dimana empat di antaranya tepat sasaran.

Solskjaer mengkritik wasit yang tak memberikan penalti pada timnya. Pelatih asal Norwegia merujuk pada insiden saat Mason Greenwood dan Callum Hudson-Odoi berebut bola di kotak penalti Chelsea dan bola mengenai tangan Hudson-Odoi.

Wasit menggunakan bantuan VAR, tapi tak melihatnya sebagai penalti karena tangan Hudson-Odoi dinilai tidak aktif.

“Itu jelas penalti. Saya sedikit khawatir kami tidak mendapatkan penalti setelah suara-suara sumbang di luar sana soal kami mendapat banyak penalti,” kata Solskjaer, dikutip dari BBC, Senin 1 Maret 2021.

Sejak awal musim lalu, MU mendapatkan 22 penalti atau yang terbanyak di antara semua tim. Selain itu, pelatih Liverpool Jurgen Klopp pernah berkomentar bahwa perlakuan wasit kepada Setan Merah berbeda dibandingkan dengan Liverpool soal penalti.

“Ada beberapa pelatih yang memengaruhi wasit. Saya percaya wasit takkan terpengaruh, tapi saya terkejut dengan keputusan wasit kali ini,” ujarnya.

Hasil imbang lawan Chelsea membuat MU kini tertinggal 12 poin dari Manchester City di puncak klasemen.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini