Peran Keluarga untuk Menekan Fenomena Lone Wolf

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Edukasi yang masif dalam keluarga, khususnya terkait pendidikan karakter hingga keagamaan dapat menekan fenomena lone wolf atau model teroris yang bergerak sendiri.

Kepala Pusat Riset Kajian Terorisme Benny Mamoto pernah mengatakan bahwa keluarga merupakan lingkungan yang paling awal untuk memberikan edukasi sehingga bila pendidikan di dalam keluarga sudah kuat, kemungkinan seseorang terkena paham radikal akan lebih kecil.

Apabila pendidikan dalam keluarga sudah kuat maka ketika keluar dan membaur dengan masyarakat, seseorang mampu memilih dan menyeleksi hal yang baik dan buruk.  Pengamat intelijen dan terorisme Stanislaus Riyanta juga menilai hal yang sama. Menurutnya, keluarga adalah komponen yang bisa mendeteksi adanya potensi benih-benih teroris dalam diri suatu individu.

“Yang pertama kali bisa mendeteksi individu dengan potensi sebagai pelaku teror adalah orang terdekat misalnya keluarga. Sangat penting bagi keluarga-keluarga di Indonesia untuk mempunyai pengetahuan deteksi dini ancaman radikalisme terorisme,” kata Stanislaus saat berbincang dengan Mata Indonesia News, Rabu 3 Februari 2021.

Tidak hanya melalui keluarga, namun upaya pencegahan radikalisme dan terorisme melalui lingkungan sekolah dan sipil juga penting. Upaya yang lebih masif bisa membantu mempercepat aparat untuk mendeteksi dan mengidentifikasi setiap individu atau kelompok yang sudah teradikalisasi.

Meski demikian bila seseorang sudah terpapar radikalisme dan bergerak secara lone wolf, tidak menutup kemungkinan seseorang tersebut bisa menjalani proses deradikalisasi. Prosesnya bahkan bisa lebih mudah mengingat individu yang bergerak secara lone wolf lebih mudah ditangani daripada  anggota yang sudah puluhan tahun menjadi militan.

Kehadiran lone wolf sejatinya bisa dideteksi dini dengan cepat sehingga ketika sudah menemukan akar masalah, rasa kepercayaan pada aparat bisa kembali dibangun. Hal inilah yang membuat proses deradikalisasi terhadap pelaku teror lone wolf bisa berjalan lebih mudah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Penyerahan Dana 11.4 T Bukti Ketegasan Hukum dan Integritas Pemerintah Selamatkan Aset Negara

Oleh: Ahmad SubarkahPemandangan tumpukan uang tunai senilai Rp11,4 triliun di Kantor Kejaksaan Agung pada Jumat, 10 April 2026, bukan sekadar seremonial birokrasi biasa yang kerap menghiasi layarkaca. Bagi publik yang jeli melihat arah kebijakan nasional, peristiwa tersebut adalah proklamasiatas babak baru penegakan hukum di Indonesia, yakni sebuah fase di mana hukum tidak hanyaberfungsi memenjarakan badan, tetapi juga secara agresif memulihkan urat nadi perekonomiannegara. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang baru berjalan sekitar satu setengahtahun, langkah strategis melalui Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) telah menjelmamenjadi instrumen penyelamat fiskal yang sangat konkret dan terukur. Fenomena ini menandaipergeseran paradigma penegakan hukum dari yang bersifat retributif semata menjadi restitusifinansial yang masif demi kepentingan rakyat banyak.Langkah pemerintah dalam menarik denda administratif dan menyita aset hasil kejahatan sektorkehutanan merupakan jawaban cerdas sekaligus berani atas tantangan defisit anggaran yang sedang membayangi. Sebagaimana diketahui, data kuartal pertama tahun 2026 menunjukkanbahwa APBN per 31...
- Advertisement -

Baca berita yang ini