WHO: Pandemi Virus Corona Tahun Kedua Akan Lebih Menyulitkan

Baca Juga

MATA INDONESIA, INTERNASIONAL – Tahun kedua pandemi virus corona diyakini akan lebih menyulitkan daripada yang pertama, mengingat bagaimana virus corona baru menyebar, terutama di belahan bumi bagian utara. Hal ini dilaporkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Kami akan memasuki tahun kedua ini, bahkan bisa lebih sulit mengingat dinamika transmisi dan beberapa masalah yang kami lihat,” kata Mike Ryan, pejabat tinggi darurat WHO dalam sebuah acara di media sosial, melansir Reuters, Kamis, 14 Januari 2021.

Jumlah kematian akibat infeksi virus corona di seluruh dunia mendekati angka 2 juta! Dengan 91,5 juta orang terinfeksi sejak pandemi virus corona menyerang planet bumi tahun lalu.

“Pastinya di belahan bumi utara, khususnya di Eropa dan Amerika Utara, kami telah melihat badai musim dingin. Orang-orang masuk ke dalam, percampuran sosial yang meningkat, dan kombinasi sejumlah faktor yang telah mendorong peningkatan penularan di banyak negara,” sambung Ryan.

Maria van Kerkhove, pimpinan teknis WHO untuk COVID-19 memperingatkan bahwa setelah periode liburan, wabah virus corona di sejumlah negara akan jauh lebih buruk sebelum menjadi lebih baik.

Di tengah meningkatnya kekhawatiran akan varian virus corona yang lebih menular –pertama kali terdeteksi di Inggris dan kini menyebar hampir ke seluruh dunia, pemerintah di seluruh Eropa mengumumkan pembatasan virus corona yang lebih ketat dan lebih panjang.

Di Swiss misalnya, kantor pusat dan toko ditutup. Sementara di Italia, keadaan darurat diperpanjang. Di Jerman, sejumlah daya dan upaya diberlakukan demi mengendalikan penyebaran virus corona.

“Saya khawatir kami akan tetap berada dalam pola, puncak dan palung dan puncak dan palung. Kami dapat melakukannya dengan lebih baik. Semakin jauh, semakin baik … tapi pastikan Anda menjaga jarak dari orang-orang di luar dekat rumah Anda,” kata Maria van Kerkhove.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dimethyl Ether dan Transformasi Ketahanan Energi Indonesia

Oleh : Ricky Rinaldi *)Ketahanan energi menjadi salah satu isu strategis yang menentukan arahpembangunan nasional di tengah dinamika global yang terus berubah. Ketergantungan terhadap energi impor, fluktuasi harga komoditas internasional, serta meningkatnya kebutuhan energi domestik menuntut Indonesia untukmelakukan transformasi kebijakan secara menyeluruh. Dalam konteks tersebut, pengembangan Dimethyl Ether (DME) menjadi salah satu langkah penting dalammemperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantunganterhadap impor LPG.DME dipandang sebagai alternatif energi yang memiliki potensi besar untukmendukung kebutuhan rumah tangga dan industri. Pemanfaatan sumber dayadomestik untuk produksi DME membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuatkemandirian energi. Dengan cadangan batu bara yang melimpah serta potensihilirisasi energi yang besar, pengembangan DME menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam membangun sistem energi yang lebih berkelanjutan.Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa ketahanan energi harus dibangunmelalui pemanfaatan sumber daya nasional secara optimal. Indonesia tidak dapatterus bergantung pada impor energi yang rentan terhadap gejolak global. Oleh karena itu, transformasi sektor energi menjadi prioritas untuk memastikan kebutuhanmasyarakat dapat terpenuhi secara stabil dan berkelanjutan.Pengembangan DME juga menjadi bagian dari agenda hilirisasi industri nasional. Selama ini, sumber daya alam Indonesia banyak diekspor dalam bentuk bahanmentah tanpa memberikan nilai tambah maksimal di dalam negeri. Melalui hilirisasi, komoditas domestik dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi yang mendukungkebutuhan nasional sekaligus membuka peluang ekonomi baru.Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menekankan bahwatransformasi energi harus diarahkan pada penguatan kemandirian nasional. Pengembangan DME tidak hanya bertujuan mengurangi impor LPG, tetapi juga memperkuat industri dalam negeri dan menciptakan lapangan kerja baru. Denganpendekatan yang terintegrasi, sektor energi dapat menjadi motor pertumbuhanekonomi nasional.Salah satu keuntungan utama pengembangan DME adalah potensi penghematandevisa negara. Selama ini, impor LPG menjadi salah satu komponen besar dalampengeluaran energi nasional. Dengan memanfaatkan DME sebagai substitusi, ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi secara bertahap. Langkah inimemberikan ruang fiskal yang lebih besar bagi pemerintah untuk mendukung sektorstrategis lainnya.Selain aspek ekonomi, pengembangan DME juga memiliki dampak strategisterhadap stabilitas pasokan energi. Ketika dunia menghadapi ketidakpastiangeopolitik dan fluktuasi harga energi, negara yang memiliki sumber energi domestikyang kuat akan lebih siap menghadapi tekanan global. Dengan memperkuatproduksi energi dalam negeri,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini