The Quarrymen, Band Awal John Lennon Sebelum Terbentuknya The Beatles

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA– Tak ada yang tahu band bernama The Quarrymen? Padahal band ini didirikan musisi legendaris John Lennon saat pertama kali ia terjun ke dunia musik.

Penyanyi bernama lengkap John Winston Lennon ini lahir dari pasangan Freddie Lennon dan Julia Stanley. Freddie adalah seorang pelaut yang jarang sekali pulang. Bahkan pada saat Julia melahirkan John, yang waktunya bersamaan dengan Perang Dunia II, dimana Inggris saat itu diserang oleh Jerman, Freddie tidak hadir disana. Julia adalah seorang pengagum berat Perdana Menteri Inggris kala itu, yang juga seorang pelopor organisasi Perserikatan Bangsa – Bangsa, Winston Churchill. Tak heran pada nama anaknya disisipkan nama depan figur idolanya tersebut.

Saat usianya 5 tahun, ayah dan ibunya akhirnya benar – benar berpisah. John diharuskan untuk memilih salah satu dari mereka. Saat John hendak menentukan pilihannya, Freddie mengajak John berlibur ke Blackpool. Julia dan kekasih barunya mengetahui konspirasi sang ayah, maka mereka mengikutinya. Di Blackpool, ketika ditanyakan dengan siapa ia hendak tinggal, John sempat 2 kali menjatuhkan pilihan kepada sang ayah. Akhirnya ketika ibunya pergi meninggalkan ia dan ayahnya, John berlari mengejar ibunya sambil menangis dan memeluknya. Semenjak itu, selama 20 tahun, ia tidak pernah bertemu lagi dengan ayahnya.

Namun saat di Liverpool, keluarga besar dari pihak ibunya memutuskan, bahwa John akan lebih baik bila diasuh oleh seseorang yang lebih stabil, berkemauan keras, dan bertanggung jawab. Pilihan itu jatuh ke kakak Julia, Mimi Smith.

John memang diasuh bibinya, tetapi ia tetap dapat mengunjungi ibunya karena jarak rumah mereka yang tidak terlalu jauh. Dari sang ibu, ia mengasah bakat musiknya. Julia adalah seorang penggemar fanatik Elvis Presley, ia juga dapat memainkan instrumen seperti gitar, banjo, dan piano, selain kegemarannya yang lain, melukis.

Julia pula orang pertama yang memberikan gitar kepada anaknya, yang membuat John semakin keranjingan bermain gitar daripada belajar. Bibi Mimi pernah berkata kepadanya: “Gitar memang oke, John, tapi kamu tidak bisa hidup dari itu.” Petuah khas yang standar dari orangtua konservatif jaman dahulu. Beberapa tahun kemudian, ketika Lennon telah sukses, ia menghadiahkan Mimi sebuah plakat emas bertuliskan kata-kata tersebut.

John Lennon pertama kali naik panggung dengan band pertamanya yang ia beri nama The Quarrymen, sebuah band skiffle (bermain musik dengan menggunakan alat – alat rumah tangga) yang saat itu sedang trend di Liverpool. Nama tersebut diambil dari sekolah John dan teman – teman bandnya, Quarry Bank High School. Pada saat pementasan pertama John Lennon di Rosebery Street, Julia sangat antusias dan mengajak serta kedua anak perempuannya untuk menonton John sampai menjelang malam.

Kelompok ini pertama kali berlatih di rumah Shotton di Vale Road, tetapi karena kebisingan itu, ibunya menyuruh mereka menggunakan tempat berlindung serangan udara bergelombang di taman belakang. Latihannya dipindahkan dari tempat penampungan serangan udara dingin ke rumah Hanton atau Griffiths. Band ini juga sering mengunjungi ibu Lennon, serta mendengarkan koleksi rekaman Elvis Shirley.

Di tanggal 6 Juli 1957, Quarrymen tampil di Gereja St. John, Woolton. Di tempat inilah Lennon pertama kali bertemu dengan Paul McCartney, yang kala itu menonton penampilan Quarrymen. McCartney sangat kagum akan penampilan band tersebut. Setelah itu, McCartney menghampiri Quarrymen di belakang panggung dan ditemani temannya Ivan Vaughan yang juga teman Lennon.
Tak lama kemudian, McCartney bergabung dengan Quarrymen. Lennon dan McCartney menjadi sangat tidak jauh, dan sering terlihat bersama. Keduanya terlibat dalam rasa ‘senasib’ karena mereka kehilangan ibunya sejak remaja. Lennon dan McCartney mulai menulis lagu bersama maupun sendiri-sendiri. Salah satu lagu yang dihasilkan pada masa-masa ini yaitu ‘Hello Little Girl’ yang kemudian menjadi terkenal oleh The Fourmost pada tahun 60an.

Kemudian, McCartney memperkenalkan temannya yaitu George Harrison, yang setahun lebih muda darinya. Lennon, pada awalnya keberatan karena Harrison dinilai terlalu muda, setelah dibujuk McCartney akhirnya ia setuju. Bergabungnya Harrison disusul oleh Stuart Sutcliffe, sahabat Lennon di Sekolah Seni, yang menjadi basis. Sutcliffe sebenarnya tak dapat menjadi pemain bas, namun Lennon bersikeras sebagai mengajak nya ikut dengan Quarrymen.

Quarrymen pertama kali rekaman suara, dengan membawakan lagu Buddy Holly “That’ll Be the Day” dan “In Spite of All the Danger”, sebuah lagu yang ditulis oleh McCartney dan Harrison. Pada tahun 1960 grup tersebut mengubah nama mereka menjadi The Beatles dan kemudian memiliki karier musik yang sukses secara historis.

Setelah itu, pada tahun 1997 keempat anggota asli Quarrymen yang masih hidup bersatu kembali, untuk tampil di perayaan ulang tahun ke 40. Pertunjukkan tersebut diadakan di taman tempat Lennon dan McCartney bertemu pertama kalinya. Sejak 1998, mereka tampil di berbagai negara dan telah merilis 4 album.

Reporter: Azizah Putri Octavina

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Mendukung Instensifikasi Respons Dini Menekan Dampak PHK terhadap Masyarakat

*) Oleh : Prinsa AlisaDinamika perekonomian global yang masih diwarnai ketidakpastian memberikantantangan tersendiri bagi dunia usaha dan sektor ketenagakerjaan di Indonesia. Dalam situasi tersebut, pemerintah terus menunjukkan komitmennya untuk melindungimasyarakat melalui berbagai langkah strategis guna mengantisipasi dan meminimalkan dampak pemutusan hubungan kerja (PHK). Upaya intensifikasirespons dini yang dilakukan pemerintah patut mendapatkan dukungan dari seluruhelemen masyarakat karena menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas ekonominasional sekaligus melindungi kesejahteraan para pekerja dan keluarganya.Langkah respons dini yang diperkuat pemerintah menunjukkan adanya kesadaranbahwa potensi PHK harus diantisipasi sebelum berkembang menjadi permasalahansosial dan ekonomi yang lebih besar. Melalui pemantauan kondisi industri secaraberkelanjutan, penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga, sertakomunikasi yang lebih intensif dengan pelaku usaha, pemerintah berupayamendeteksi berbagai potensi risiko sejak awal. Pendekatan ini menjadi penting karenapenanganan yang cepat dan tepat dapat mengurangi dampak yang dirasakan oleh pekerja maupun sektor usaha.Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Dirjen PHI dan Jamsos) Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (KemnakerRI), Indah Anggoro Putri menjelaskan pemerintah terus mendorong berbagaikebijakan yang bertujuan menjaga keberlangsungan dunia usaha agar tetap mampumempertahankan tenaga kerjanya. Berbagai insentif, kemudahan berusaha, hinggaupaya menjaga iklim investasi terus dilakukan untuk menciptakan ruang tumbuh bagisektor industri. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya fokuspada penanganan dampak setelah PHK terjadi, tetapi juga berupaya mencegahterjadinya PHK melalui penguatan daya tahan ekonomi dan dunia usaha.Selain itu, pengembangan program peningkatan keterampilan dan pelatihan kerjamenjadi salah satu bentuk nyata respons pemerintah dalam menghadapi perubahankebutuhan pasar tenaga kerja. Transformasi ekonomi dan perkembangan teknologimenuntut tenaga kerja memiliki kompetensi yang semakin adaptif. Melalui berbagaiprogram pelatihan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemerintahberupaya memastikan bahwa pekerja Indonesia tetap memiliki daya saing dan peluang kerja yang luas di tengah perubahan ekonomi yang berlangsung cepat.Dukungan terhadap respons dini pemerintah juga penting karena dampak PHK tidakhanya dirasakan oleh individu yang kehilangan pekerjaan, tetapi juga memengaruhikondisi ekonomi keluarga dan masyarakat sekitar. Ketika lapangan kerja dapatdipertahankan dan risiko PHK dapat ditekan, daya beli masyarakat akan tetap terjaga. Stabilitas konsumsi rumah tangga pada akhirnya akan mendukung pertumbuhanekonomi nasional yang lebih kuat dan berkelanjutan. Oleh karena itu, keberhasilanlangkah pemerintah dalam melakukan mitigasi risiko ketenagakerjaan akanmemberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.Pakar demografi dan ketenagakerjaan terkemuka dari Universitas Gadjah Mada(UGM), Tadjuddin Noer Effendi menjelaskan di tingkat daerah, penguatan respons dinidapat membantu pemerintah daerah dan pelaku usaha mengambil langkah antisipatifyang lebih efektif. Informasi yang diperoleh lebih cepat memungkinkan berbagai pihakmenyiapkan solusi sebelum terjadi gejolak ketenagakerjaan yang lebih besar. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam memastikan setiap kebijakan dapat berjalansecara optimal dan tepat sasaran.Dukungan terhadap langkah pemerintah juga perlu diwujudkan melalui partisipasi aktifberbagai pemangku kepentingan....
- Advertisement -

Baca berita yang ini