Daftar Perayaan dalam Gereja Katolik dan Protestan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Meski sekilas terlihat sama, agama Katolik dan Protestan sebenarnya berbeda. Karena itu, hari rayanya pun juga ada yang tak sama.Berikut ulasannya:

Perayaan yang sama
Yang sama adalah soal ibadah hari Minggu di gereja. Namun namanya berbeda, kalau di Katolik dikenal dengan misa kudus atau perayaaan ekaristi. Sementara di Protestan dikenal dengan kebaktian.

Dua agama ini juga turut merayakan hari raya Natal atau hari kelahiran Yesus Kristus. Hari raya paskah yang terdiri atas Jumat Agung, Paskah, Kenaikan Yesus dan Pentakosta. Hari raya ini untuk mengenang sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus.

Perayaan yang cuma ada di Gereja Katolik
Namun dalam agama Katolik, ada sejumlah hari raya wajib lain yang dirayakan.

1. Tanggal 1 Januari ada hari raya Santa Perawan Maria Bunda Allah.
Perayaan tersebut dirayakan oleh Gereja Katolik Roma atau hari Oktaf (ke-8) dari Masa Natal, dan di beberapa negara merupakan sebuah hari raya wajib. Perayaan ini untuk menghormati Maria sebagai Bunda Allah, yang mengandung dan melahirkan Yesus Kristus.

2. Hari raya Epifani yang diperingati tiap tanggal 6 Januari.
Hari raya ini memperingati peristiwa yang terjadi setelah kelahiran Yesus Kristus, dimana Maria dan bayi Yesus yang baru saja lahir dikunjungi oleh tiga orang majus dari Timur yang membawa persembahan.

3. Hari raya Santo Yusuf yang dirayakan tiap tanggal 19 Maret.
Dalam Gereja Katolik Roma diperingati sebagai hari raya Santo Yusuf yang merupakan suami Bunda Maria.
Hari raya ini juga merupakan Hari Raya Pelindung untuk Polandia serta Kanada. Sementara untuk negara Spanyol, Portugal, dan Italia diperingati sebagai hari ayah.

4. Hari raya Tubuh dan Darah Kristus
Pesta Corpus Christi (secara harafiah berarti: “Tubuh Kristus”), atau dikenal secara resmi dalam Gereja Katolik sebagai Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Tujuannya adalah untuk menghormati Ekaristi, dan oleh karenanya tidak memperingati satu peristiwa apa pun dalam kehidupan Yesus.

Perayaan ini biasa diadakan pada hari Kamis setelah Hari Raya Tritunggal Mahakudus untuk menghubungkannya dengan peristiwa Yesus yang menetapkan Ekaristi dalam Perjamuan Terakhir, pada Hari Kamis Putih.

5. Hari raya Santo Petrus dan Paulus yang dirayakan tiap tanggal 29 Juni.
Hari raya ini untuk menghormati kemartiran rasul Santo Petrus dan Santo Paulus di Roma, yang utamanya dirayakan oleh Gereja Katolik Roma dan Gereja-Gereja Timur dalam tradisi Bizantium.

Perayaan ini berasal dari tradisi kuno, dan tanggal 29 Juni ditetapkan sebagai peringatan kematian atau pemindahan relikui mereka ke basilika.

6. Hari raya Maria Diangkat ke Surga tiap tanggal 15 Agustus.
Hari raya ini untuk mengenang perjalanan Maria ke surga dirayakan sebagai Kekhidmatan Pengangkatan Sang Perawan Suci Maria ke surga oleh umat Katolik Roma. Doktrin ini ditetapkan sebagai dogmatis dan tidak dapat berunsur kesalahan oleh Paus Pius XII pada tanggal 1 November 1950 melalui Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus.

Konsep Maria diangkat ke surga juga diajarkan oleh Gereja Ortodoks Timur dan gereja-gereja Oriental dan Ortodoks Koptik, di mana hal ini dikenal dengan nama ‘Tidurnya Sang Theotokos‘ (Bunda Allah).

7. Hari raya Semua Orang Kudus tanggal 1 November.
Ini adalah suatu perayaan keagamaan yang dirayakan sebagian Kekristenan Barat dan pada hari Minggu pertama setelah Pentakosta di Kekristenan Timur, untuk menghormati semua orang kudus baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal.

Hari Raya Semua Orang Kudus adalah hari kedua Hallowmas. Perayaannya dimulai saat matahari terbenam pada tanggal 31 Oktober (dirayakan sebagai Halloween) dan selesai saat matahari terbenam pada tanggal 1 November. Perayaan ini adalah satu hari sebelum perayaan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman.

8. Hari Arwah semua Umat Beriman tiap tanggal 2 November.
Hari yang dirayakan untuk memperingati semua orang beriman yang telah meninggal dalam agama Kristen. Biasanya untuk mengenang arwah kerabat, sahabat dan kenalan yang telah berpulang dengan harapan mereka bisa mendapat keselamatan kekal di Surga.

9. Hari raya Maria Dikandung Tanpa Noda tanggal 8 Desember.
Hari raya ini diresmikan sebagai sebuah pesta perayaan umum Gereja pada tahun 1476 oleh Paus Siktus IV. Ia tidak membuat doktrin tersebut sebagai sebuah dogma sehingga membiarkan umat Katolik Roma untuk bisa percaya atau tidak tanpa risiko dituduh menentang ajaran gereja.

Kebebasan ini ditegaskan sekali lagi oleh Konsili Trente. Keberadaan pesta perayaan ini adalah sebuah tanda kuat mengenai kepercayaan Gereja atas Maria Dikandung Tanpa Noda, bahkan jauh sebelum peresmiannya sebagai sebuah dogma pada abad ke-19.

Perihal Maria Dikandung Tanpa Noda (Immaculata Conceptio) secara resmi dinyatakan sebagai sebuah dogma oleh Paus Pius IX melalui konstitusi apostiliknya, Ineffabilis Deus, pada tanggal 8 Desember 1854

Reporter : Diego Leander

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini