Ditilang karena Ngebut, Alasan Ozil Tak Bisa Bedakan Kilometer dan Mile

Baca Juga

MATA INDONESIA, LONDON – Gelandang Arsenal, Mesut Ozil pernah ditilang karena memacu kendaraan melebihi batas kecepatan. Menurut Ozil, diak tak bisa bedakan kilometer dan mile.

Pada 2 Juli lalu, Ozil berkendara menuju rumah setelah usai latihan bersama Arsenal. Ozil memacu mobil melewati batas kecepatan. Kamera pencatat kecepatan menunjukkan, Ozil berkendara mencapai 97 mile per jam.

Menurut The Sun, Ozil melakukan pembelaan di persidangan soal melanggar batas kecepatan. Pemain asal Jerman menyebut, dia kesulitan membedakan kilometer dan mile.

“Karena pandemi Covid-19, jalan tol sangat sepi dan satu-satunya alasan yang bisa saya berikan, karena tak ada kendaraan di jalan, saya sedikit mengendurkan konsentrasi,” ujar Ozil, dikutip dari Marca, Jumat 6 November 2020.

“Saya orang Jerman dan saya terbiasa mengendarai mobil menggunakan km per jam, bukan dalam mile,” lanjut Ozil.

Dalam kasus ini, Surat Izin Mengemudi (SIM) Ozil terancam ditahan atau dilarang mengemudi dalam batas waktu tertentu. Tapi, Ozil berharap SIM-nya tidak ditahan dan lebih memilih dihukum bayar denda. Alasannya, di tengah pandemi Covid-19, dia tak berani pergi menggunakan transportasi umum.

“Di situasi saat ini, saya tidak berani bepergian menggunakan transportasi umum bersama putri saya,” ungkap Ozil.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini