Bukan Pangeran, Ini Sebutan Anak Meghan Markle dan Pangeran Harry Nantinya

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA-Pangeran Harry dan Meghan Markle saat ini sedang berbahagia. Mereka berdua baru saja dikaruniai anak pertama, seorang bayi laki-laki yang dinamai Archie Harrison Mountbatten-Windsor.

Meskipun keturunan pangeran dan berada di posisi ke tujuh dalam takhta kerajaan Inggris, Anak pertama pangeran Harry ini tak akan mendapatkan gelar pangeran di depan namanya. Alasannya, sejarah kerajaan telah mengatur soal gelar ini sejak lama.

Kembali ke tahun 1917, ketika Pangeran George V membatasi anggota keluarga kerajaan dengan memberi gelar.

Mengingat Pangeran Harry adalah putra kedua dari Pangeran Charles, Prince of Wales, maka anak-anak keturunannya akan berada jauh dari garis takhta kerajaan. Pangeran Harry sendiri, kini berada di urutan ke-6 yang duduk di tahta kerajaan Inggris, setelah Pangeran Charles, Pangeran William, Pangeran George, Putri Charlotte dan Pangeran Louis.

Bila tidak dipanggil pangeran, Archie tetap akan memiliki gelar bangsawan yaitu Earl of Dumbarton yang merupakan gelar milik sang ayah, Pangeran Harry. Namun Harry dan Meghan memutuskan tidak memberi gelar sama sekali untuk sang anak, seperti yang telah dikonfirmasi pada media Inggris, Daily Mail.

“Aku telah melakukan konfirmasi jika Archie Harrison Mounbatten-Windsor tak akan memiliki gelar. Dia hanya akan dipanggil Master Archie,” ujarnya.

Panggilan ini bukan hal mengejutkan mengingat Harry dan Meghan selalu ingin membesarkan anaknya secara normal dan tidak menjadi pusat perhatian. Keduanya merasa tidak perlu memberikan Archie sebuah gelar.

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini