Tanpa Van Dijk, Liverpool Bisa Apa?

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Liverpool harus menelan pil pahit, setelah bek andalannya, Virgil van Dijk harus diistirahatkan dalam waktu lama akibat cedera, saat The Reds ditahan imbang Everton pada Sabtu 17 Oktober 2020 lalu.

Cederanya van Dijk, tentu menjadi beban berat bagi lini pertahanan Liverpool. Apalagi, skuat asuhan Jurgen Klopp tersebut harus menghadapi Ajax Amsterdam pada Kamis dini hari ini, 22 Oktober 2020.

Klopp sebagai pelatih, masih tak terima dengan kondisi van Dijk. Namun, lain lagi komentar bek legendaris Liverpool, Steve Nicol, yang menilai mantan timnya harus bangkit dan tetap optimis, meski tanpa pemain asal Belanda tersebut.

“Mereka perlu memastikan tidak menggunakan kehilangan van Dijk sebagai penopang. Kalau para pemain berkeliaran atau staf selalu bilang ‘Well, kalau kami punya van Dijk atau Alisson…’. Anda tak bisa seperti itu. Kalau seperti itu, Anda bakal tenggelam,” kata Nicol, seperti dikutip dari ESPN.

“Ketika Anda kehilangan pemain, terlepas siapapun itu, Anda harus menyingkirkannya, melupakannya, dan beranjak. Kalau tidak, Anda bakal ada dalam masalah. Anda tak bisa begitu,” ujarnya menambahkan.

Ia mengajak seluruh unsur skuat Liverpool untuk melupakan van Dijk sejenak dan tak lagi membahas soal cedera tersebut, agar sang pemain dapat memulihkan kondisi tubuhnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG Dikawal Para Ahli, Masa Depan Gizi Anak Makin Terjamin

Oleh: Alexander Royce*)Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menjadi salah satu kebijakan strategispemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Di tengahberbagai tantangan pembangunan, mulai dari stunting, kesenjangan akses panganbergizi, hingga kebutuhan peningkatan kualitas generasi muda menuju Indonesia Emas 2045, kehadiran MBG menunjukkan komitmen negara untuk memastikan setiap anakIndonesia mendapatkan hak yang sama atas asupan gizi yang berkualitas. Pemerintahterus memperkuat tata kelola dan pengawasannya dengan melibatkan para ahli gizi, tenaga kesehatan, akademisi, hingga berbagai pemangku kepentingan agar manfaatnya semakin optimal dan tepat sasaran.Dukungan terhadap MBG juga datang dari kalangan akademisi dan praktisi gizi. Ahli Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) sekaligus Dewan Pengurus Pusat Himpunan Alumni IPB Departemen Gizi, Lesda Lybaws, menilai program MBG merupakan langkah yang efektif untuk memutus rantai stunting...
- Advertisement -

Baca berita yang ini