Bakal Rilis Lagu Baru, Chen EXO Banjir Komentar Sinis dari Penggemar?

Baca Juga

MATA INDONESIA, SEOUL – Baru-baru ini anggota EXO, Chen mengumumkan perilisan single digitalnya ‘Hello.’ Single digital baru Chen akan dirilis pada 15 Oktober KST, di berbagai situs streaming musik.

Chen telah melanjutkan karir musiknya setelah melakukan debutnya dengan grup perform hebat EXO. Dia telah berhasil menjadi artis solo karena dia menunjukkan vokal yang lebih lembut dengan pesona lembutnya saat dia merilis lagu balada dan OST.

Pemilik nama asli Kim Jong Dae ini telah menerima banyak cinta dari penggemar. Namun, kini dia telah kehilangan beberapa penggemar Korea setelah dia mengumumkan pernikahannya dengan pacarnya dan kelahiran anaknya.

Chen adalah member pertama yang berani mengambil langkah besar untuk menikahi sang pacar. Popularitas EXO yang luar biasa kemudian membuat sejumlah orang mengecam tindakan CHEN dan meminta untuk keluar dari grup.

Dengan pengumuman perilisan single digitalnya baru-baru ini, banyak penggemar yang memberi selamat kepada artis tersebut. Meski begitu, ada beberapa orang yang terus meninggalkan komentar jahat tentang Chen di komunitas online.

Para penggemar ini, yang tidak berbeda dengan anti-fans, terus meminta Chen untuk keluar dari grup. Para netizen bertengkar sengit karena para penggemar yang mendukung Chen berdebat dengan mereka yang meminta Chen untuk berhenti menjadi bagian dari EXO.

Berikut beberapa komentar dari penggemar untuk Chen:

“Tetap kuat, Chen.”

“Lagu tidak boleh ‘Halo’, tapi harus ‘Selamat tinggal’. Dia harus pergi. ”

“Saya bukan penggemar, tapi dia masih mengganggu saya. Mengapa dia tidak bisa meninggalkan grup dan hanya menjadi artis solo? Apa dia tidak mendapatkan cukup uang sejauh ini? Dia seharusnya menjadi penyanyi solo dan hanya anak.”

“Saya tidak tahu apa yang salah dengan orang-orang ini. Biarkan saja dia, tidak berdosa memiliki keluarga.”

“Saya mendukung Chen.”

“Dia sangat kurang ajar. Mungkin itu sebabnya dia bisa jadi selebriti.”

“Chen harus keluar dari EXO.”

“Tidak ada yang menyuruhnya untuk tidak menjadi penyanyi. Kami hanya ingin dia meninggalkan EXO.”

“Mengapa para penggemar EXO ini membuat masalah besar tentang kehidupan orang lain? Itu sama saja dengan menyuruh seseorang untuk meninggalkan pekerjaan mereka. Tinggalkan dia sendiri.”

“Ugh, dia sangat menyebalkan. Dia harus melepas gelar EXO.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini