Kilas Balik, Ternyata Logo TVRI Selalu Berganti-ganti, Ini Penampakannya

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Selama berdiri dan mengudara pda 24 Agustus 1962, banyak hal yang terjadi pada televisi pertama Indonesia, TVRI. Yang paling terlihat adalah pergantian logo, untuk memperingati hari jadinya mereka ada di Indonesia. Tercatat sudah delapan kali perubahan logo selama TVRI berdiri, berikut logo-logo TVRI dari masa ke masa.

  1. Logo pertama

Inilah logo pertama TVRI, yang mulai dipakai sejak 24 Agustus 1962. Selama 16 tahun lamanya TVRI memakai logo ini, dan baru menggantinya tepat ketika memasuki “masa remaja” pada 24 Agustus 1978.

  1. Logo kedua

Masih mempertahankan desain awal, kemudian ditambahkan wadah berwarna putih dan motif warna merah, hijau, biru di sisi kanan. Logo ini hanya dipakai selama empat tahun, mulai 24 Agustus 1978-24 Agustus 1982.

  1. Logo ketiga

Inilah logo terlama yang dipakai TVRI. Dengan bentuk segilima berwarna hijau dan tulisan TVRI yang ikonik, logo ini terpampang di tayangan-tayangan TVRI selama 17 tahun! Sejak pertama dipakai pada 24 Agustus 1982, TVRI baru menggantinya pada 24 Agustus 1999. Logo ini juga digunakan sebagai logo on-air pada 1992-1995.

  1. Logo keempat

Font TVRI dari logo ketiga, berpadu dengan motif merah, hijau, dan biru dari logo kedua. Logo keempat TVRI hanya sebentar dipakai, dari 24 Agustus 1999 sampai 12 Juli 2001.

  1. Logo kelima

TVRI mulai meninggalkan motif garis lengkung berwarna sejak logo kelima. Hanya tulisan TVRI dengan garis tepi berwarna merah dan huruf berwarna putih. Logo ini hanya dipakai dua tahun, dari 13 Juli 2001 sampai 1 Agustus 2003.

  1. Logo keenam

Bentuk huruf dibuat lebih miring, dengan pembaruan huruf “V” yang diwarnai merah dan huruf “R” yang memiliki kaki lebih luwes. Warna biru di huruf T, R, dan I adalah perpaduan biru tua dan hitam. Logo ini dipakai pada 1 Agustus 2003 sampai 16 April 2007.

  1. Logo ketujuh

Warna merah dan biru kembali dipertahankan TVRI. Biru untuk seluruh warna huruf T, V, R, dan I, kemudian merah untuk warna boomerang di atasnya. Ini merupakan logo ketiga terlama yang dipakai TVRI, yakni selama 12 tahun. Tepatnya sejak 16 April 2007 sampai 29 Maret 2019.

  1. Logo kedelapan

TVRI semakin menegaskan niatnya untuk meninggalkan kesan kuno, dengan mengganti logo jadi lebih sederhana dan berkarakter kuat, seperti yang sedang diminati kawula muda saat ini. Peluncuran logo baru ini juga disertai dengan tagar #mediapemersatubangsa.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini