Virus Corona Melonjak Lagi di Cina

Baca Juga

MATA INDONESIA, BEIJING – Baru saja Cina umumkan negaranya bebas dari virus Corona, ternyata memasuki Juli 2021 ini kasus infeksi virus ini kembali melonjak di Cina. Jumlah penambahan kasus bahkan terbesar sejak Januari 2021.

Selasa 20 Juli 2021, Komisi Kesehatan Nasional Cina menyebutkan terdapat 65 kasus baru virus corona. Jumlah itu naik tajam dari sehari sebelumnya yaitu 31 kasus. Penambahan di atas 60 kasus terakhir kali terjadi pada 30 Januari 2021. Kala itu dalam 24 jam muncul 92 kasus baru di Cina.

Lonjakan kasus mayoritas merupakan penularan di luar negeri. Sebanyak 41 dari 65 kasus baru berasal muncul di Yunan.  Diduga kasus-kasus baru itu dibawa oleh warga yang baru kembali dari Myanmar. Yunan berbatasan langsung dengan Myanmar.

Saat ini Myanmar tengah berhadapan dengan ledakan kasus Covid-19. Myanmar melaporkan penambahan kematian mencapai 281 dan kasus sebanyak 5189.

Cina merupakan negara tempat lahir virus corona. Meski demikian, sejak pertengahan 2020 Cina berhasil mengendalikan laju penyebaran virus tersebut.

Saat ini total kasus infeksi virus corona di Cina sebanyak 92.342. Sebanyak 4636 di antaranya meninggal dunia. Jumlah tersebut kecil bila dibanding negara-negara besar lain di dunia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini