Uji Praktik e-Drives Diterapkan, Petugas Tidak lagi Penentu Kelulusan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Uji Praktik e-Drives sebenarnya sudah digelar di Satpas Daan Mogot sejak 2019. Namun, pada tahun 2020 ini sistem dioperasionalkan di enam Satpas di Polres Bekasi, Indramayu, Banyumas, Surabaya, Makassar, dan Pekanbaru.

Uji praktik jenis ini menggunakan teknologi kartu RFID, passive infrared, sensor getar, dan ultrasonic. Pemanfaatan teknologi ini bakal membuat proses penilaian tidak lagi ditentukan oleh petugas, melainkan teknologi.

Meski kepengurusan SIM kini sudah bisa dilakukan secara online namun penggunaan layanan Sinar di aplikasi Digital Korlantas Polri namun uji praktik masih dipertahankan manual.

Maka, saat peserta yang hadir akan diberikan kartu RFID yang bisa dikalungkan di leher. Saat, peserta memulai kegiatan di bagian tertentu secara otomatis data terekam di ruang kontrol.

Adapun, infrared digunakan sebagai penanda start dan finis pada uji praktik. Sementara sensor fetar dipasang di traffic cone yang berada di lintasan uji, apabila tersenggol kendaraan yang dikemudikan peserta maka akan bunyi dan data bisa dikirim ke ruang kontrol untuk menentukan kelulusan.

Saat di ruangan ujian pun, dilengkapi dengan CCTV dan pengeras suara. Upaya ini mengurangi jumlah petugas yang ada di lapangan.

Terlepas dari beberapa hal tersebut, uji praktik e-Drive dibuat untuk mendukung digitalisasi pada proses pembuatan SIM secara online melalui layanan Sinar. Diketahui bahwa layanan ini bisa mengurus pembuatan SIM baru dan perpanjangan melalui ponsel.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini