Tur Eropa Indonesia Hanya Raih Satu Gelar, Begini Evaluasi PBSI

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pebulutangkis Indonesia mengakhiri rangkaian turnamen di Eropa dengan hanya meraih satu gelar. PBSI menilai, tenaga para pemain sudah terkuras habis.

Tiga rangkaian tur Eropa adalah, Denmark Open, French Open, dan Jerman Open. Dari tiga turnamen beruntun, hanya satu gelar berhasil diraih melalui Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo di Jerman Open.

Total, catatan Indonesia di tur Eropa adalah, satu gelar juara, dua runner-up, dan tiga semifinalis. Selain itu, ada beberapa pencapaian bagus yang diraih pemain pelapis di beberapa turnamen tersebut, seperti Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin dan Siti Fadia Silva Ramadhanti/Ribka Sugiarto.

Manajer tim di Jerman Open, Aryono Miranat mengatakan, pencapaian di tur Eropa cukup baik meskipun ada banyak evaluasi.

“Mengakhiri rangkaian Tur Eropa ini memang menguras tenaga, pikiran, dan mental. Namun berkat kerja keras dan kemauan tinggi dari para pemain, semuanya bisa diatasi saat bertanding di tengah lapangan. Meski capek, pemain bisa menikmati setiap pertandingan,” katanya.

“Untuk evaluasi teknik, mungkin masing-masing sektor sudah membahasnya. Sebagai manajer tim saya sampaikan terima kasih untuk kerja keras semua anggota tim,” ujarnya.

“Lumayan dapat satu gelar juara, dua runner up dan tiga semifinalis. Ada peningkatan dari pemain-pemain pelapis yang performanya cukup menggembirakan, apalagi dalam kondisi capek akibat mengikuti tur Eropa yang berlangsung sejak akhir September,” ungkapnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Targeting Nutrition: Peran MBG 3B dalam Menurunkan Stunting

Oleh : Ricky Rinaldi Stunting masih menjadi salah satu tantangan utama dalam pembangunan kesehatanmasyarakat di Indonesia. Masalah ini tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisikanak yang mengalami gangguan pertumbuhan, tetapi juga berdampak padaperkembangan kognitif, kemampuan belajar, hingga produktivitas pada masa dewasa. Karena itu, penanganan stunting membutuhkan pendekatan yang tidakhanya bersifat kuratif, tetapi juga preventif dan berkelanjutan. Dalam kontekstersebut, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan pendekatan 3B menjadibagian penting dari strategi nasional untuk memperkuat intervensi gizi sejak dini.Stunting terjadi akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung dalam jangkapanjang, terutama pada masa awal kehidupan anak. Faktor penyebabnya tidakhanya berkaitan dengan akses terhadap makanan, tetapi juga kualitas polakonsumsi, kondisi sanitasi, serta tingkat edukasi keluarga mengenai pentingnyanutrisi. Oleh karena itu, upaya penurunan stunting membutuhkan kebijakan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat.Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunansumber daya manusia harus dimulai dari pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, terutama gizi anak. Peningkatan kualitas generasi muda tidak dapat dipisahkan dariupaya memastikan bahwa anak-anak tumbuh sehat sejak usia dini. Program MBG menjadi salah satu instrumen penting dalam memastikan negara hadir memberikandukungan nyata terhadap kebutuhan gizi masyarakat.Konsep MBG 3B mengacu pada pendekatan yang menitikberatkan pada makananbergizi yang baik, berimbang, dan berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanyamemastikan kecukupan asupan nutrisi, tetapi juga memperhatikan kualitas bahanpangan dan kesinambungan distribusi. Dengan demikian, program tidak hanyamemberikan dampak jangka pendek, tetapi juga mendukung perubahan polakonsumsi yang lebih sehat.Pendekatan baik dalam MBG 3B menekankan pentingnya kualitas makanan yang diberikan. Nutrisi yang dikonsumsi anak harus memenuhi kebutuhan dasarpertumbuhan, termasuk protein, vitamin, mineral, dan zat gizi mikro lainnya. Pemenuhan nutrisi yang tepat akan membantu memperbaiki kondisi kesehatan anakserta meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit.Sementara itu, unsur berimbang menggarisbawahi pentingnya komposisi makananyang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Asupan gizi yang hanya berfokus pada satujenis makanan tidak cukup untuk mendukung tumbuh kembang optimal. Anakmemerlukan kombinasi sumber karbohidrat, protein, lemak sehat, serta sayur danbuah agar perkembangan fisik dan mental dapat berjalan secara maksimal.Unsur berkelanjutan dalam MBG 3B menjadi faktor penting yang membedakanprogram ini dari pendekatan bantuan sesaat. Program dirancang agar dapatberlangsung secara konsisten dan terintegrasi dengan sistem pangan lokal. Dengankeberlanjutan, manfaat program tidak berhenti pada satu periode, tetapi dapat terusmendukung upaya penurunan stunting dalam jangka panjang.Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana menekankan bahwa intervensi giziharus dilakukan secara tepat sasaran dan berbasis kebutuhan masyarakat. Program MBG tidak hanya berorientasi pada distribusi makanan, tetapi juga padapembentukan pola konsumsi sehat. Dengan pendekatan berbasis data, intervensidapat diarahkan pada kelompok yang paling membutuhkan sehingga dampaknyalebih efektif.MBG...
- Advertisement -

Baca berita yang ini