Simpatisan Rizieq Buat Kericuhan, Sidang Virtual Dinilai Lebih Aman

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Simpatisan Rizieq Shihab kembali membuat masalah dengan menciptakan kerumunan dan kericuhan di area luar Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Jumat 26 Maret 2021. Hal ini menjadi sorotan berbagai pihak mengingat situasi negara masih dalam suasana pandemi Covid-19.

Mantan politisi Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean menilai bahwa sidang virtual atau online lebih aman jika menilik kerumunan simpatisan Rizieq yang tercipta di luar area PN Jakarta Timur.

“Saya pribadi sangat mendukung ya agar sidang sidang Rizieq dilakukan secara online, karena kemarin terbukti bahwa pendukungnya membuat situasi tidak nyaman bagi kita karena ada kerumunan dan ada upaya melawan petugas, ini tidak baik,” kata Ferdinand kepada Mata Indonesia News, Minggu 28 Maret 2021.

Ferdinand juga menegaskan bahwa hakim harus tegas kepada terdakwa Rizieq Shihab. Mengingat, beberapa kali sidang terhambat karena adanya tekanan dari pihak Rizieq.

Ia menilai bahwa keterangan dari terdakwa Rizieq Shihab yang paling utama dibandingkan mekanisme persidangannya.

“Ini kan kondsiinya tidak normal, jadi yang penting keterangannya, jadi dikembalikan saja ke sidang virtual saja. Ini kita butuh ketegasan hakim sebenarnya, jangan mencla mencle jangan ragu jangan inferior terhadap Rizieq, yang menekan persidangan dan mengatur sedemikian rupa agar sesuai dengan keinginnanya,” kata Ferdinand.

Hal serupa juga dikemukakan oleh Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni. Ia menyarankan sidang Rizieq kembali digelar secara virtual atau online. Alasannya sama, karena massa pendukung Rizieq membuat kericuhan.

“Namun ternyara memang berakhir rusuh, sehingga saya rasa tidak ada lagi alasan untuk menggelar sidang secara offline,” kata Sahroni.

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini