MataIndonesia, Nabire – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Papua Tengah terus menunjukkan capaian positif sepanjang 2025. Program yang dijalankan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ini terbukti berkontribusi signifikan dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak usia sekolah serta kelompok rentan seperti balita dan ibu hamil maupun menyusui. Hingga akhir tahun, puluhan ribu warga Papua Tengah telah merasakan langsung manfaat dari program prioritas pemerintah tersebut.
Kepala Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Papua Tengah, Nalen Situmorang, mengungkapkan bahwa hingga Desember 2025, Program MBG telah menjangkau sebanyak 46.871 penerima manfaat. Jumlah tersebut terdiri atas 45.368 anak sekolah serta 1.503 balita dan ibu hamil atau menyusui yang membutuhkan asupan gizi seimbang. Menurutnya, capaian ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam memastikan pemenuhan gizi masyarakat berjalan secara terencana dan berkelanjutan.
“Program MBG dirancang untuk menjawab tantangan gizi di Papua Tengah, terutama dalam mendukung tumbuh kembang anak-anak serta menjaga kesehatan ibu dan balita. Hasil yang dicapai sepanjang 2025 menjadi modal penting untuk memperluas program ke wilayah lain,” ujar Nalen.
Dari sisi implementasi, hingga kini telah terbentuk 30 SPPG yang tersebar di tiga kabupaten di Provinsi Papua Tengah. Keberadaan SPPG dinilai menjadi tulang punggung pelaksanaan program karena berperan langsung dalam proses pengolahan, distribusi, dan pengawasan makanan bergizi agar tepat sasaran. Sistem pelayanan gizi berbasis wilayah ini juga disesuaikan dengan kondisi geografis dan kebutuhan masyarakat setempat, sehingga efektivitas program dapat terus terjaga.
Selain berdampak pada peningkatan kesehatan masyarakat, Program MBG juga memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan ekonomi lokal. Sepanjang 2025, tercatat sebanyak 935 tenaga kerja terserap dalam operasional SPPG. Penyerapan tenaga kerja tersebut meliputi berbagai bidang, mulai dari pengolahan bahan pangan, distribusi makanan, hingga administrasi, dengan melibatkan masyarakat setempat sebagai pelaku utama.
“Program ini tidak hanya berbicara soal gizi, tetapi juga membuka peluang kerja dan menggerakkan roda ekonomi masyarakat di sekitar lokasi SPPG,” kata Nalen.
Pemerintah daerah di Papua Tengah pun terus mendorong percepatan perluasan cakupan Program MBG. Kabupaten-kabupaten yang belum terlayani saat ini masih menjalani proses koordinasi intensif guna memastikan kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia, serta dukungan logistik. Sinergi antara pemerintah daerah, BGN, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci agar perluasan program dapat berjalan optimal.
Nalen berharap pada 2026 seluruh kabupaten di Papua Tengah sudah dapat menikmati manfaat Program MBG secara merata. Ia menegaskan bahwa pemenuhan gizi sejak dini merupakan investasi jangka panjang untuk membangun sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing, sekaligus mendukung terwujudnya Generasi Indonesia Emas 2045.
