Pria Tertinggi di Amerika Serikat Meninggal Dunia

Baca Juga

MATA INDONESIA, LOS ANGELES – Pria tertinggi di Amerika Serikat, Igor Vovkovinskiy meninggal dunia di usia 38 tahun. Kabar duka ini dibagikan ibunya.

Igor memiliki tinggi 7 feet 8 inches atau sekitar 2 meter 33 cm. Ibu Igor, Svetlana Vovkovinska, mengonfirmasi berita duka itu dalam sebuah postingan di Facebook.

Dia mengunggah foto dirinya sedang memeluk Igor saat terbaring di ranjang rumah sakit.

“Igor meninggal pada 20 Agustus pukul 22.17 WIB di rumah sakit karena penyakit jantung. Dia dan kakaknya, Oleh, bersamanya sampai akhir. Makan malam terakhirnya adalah sepotong kue Kiev dan Fanta,” tulis Svetlana, dikutip dari People, Selasa 24 Agustus 2021.

“Beberapa jam sebelum kematiannya, dia ditemani istri Oleh, Alla, dan anak-anaknya. Igor senang melihat mereka, dan meskipun sulit baginya untuk berbicara, dia mencoba bercanda tentang keponakannya Andriy, apakah dia sudah belajar bahasa Ukraina selama sebulan tinggal di Ukraina,” katanya.

Lahir pada 8 September 1982 di Ukraina, Vovkovinskiy pindah ke Amerika Serikat pada tahun 1989, mencari perawatan medis untuk tumor otak yang dideritanya. Tumor itu menekan kelenjar pituitari Vovkovinskiy, yang menyebabkannya mengeluarkan tingkat hormon pertumbuhan yang tidak normal

Tinggi badan Igor akhirnya menarik perhatian jutaan orang di seluruh dunia, termasuk mantan Presiden Barack Obama, yang melihatnya mengenakan T-shirt bertuliskan, “Pendukung Obama Terbesar di Dunia” pada kampanye tahun 2009.

Pada Mei 2010, ketika dia berusia 27 tahun, Vovkovinskiy dinobatkan sebagai pria tertinggi yang masih hidup di Amerika oleh Guinness World Records.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini