Presiden Perkuat Hilirisasi Riset untuk Energi, Pangan, dan Ekonomi

Baca Juga

Mata Indonesia, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto memperkuat arah hilirisasi riset nasional agar hasil penelitian dapat memberikan dampak langsung bagi kebutuhan masyarakat, ketahanan pangan, energi, kesehatan, hingga pertumbuhan ekonomi. Pemerintah mendorong agar inovasi yang dihasilkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat diproduksi secara massal dan dikembangkan menjadi solusi atas berbagai persoalan strategis nasional.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sejak awal menjadi salah satu perhatian utama Presiden Prabowo. Karena itu, pemerintah terus melakukan konsolidasi riset dengan kementerian dan lembaga terkait agar arah penelitian semakin tajam dan berorientasi pada kebutuhan bangsa.

“Tujuannya hanya satu, yaitu mengonsolidasikan dan menajamkan riset kita dengan tujuan untuk menghasilkan riset-riset yang langsung berdampak dan bisa menyelesaikan problem-problem yang dihadapi bangsa kita,” ujar Prasetyo.

Perhatian Presiden terhadap sektor riset juga ditunjukkan melalui penambahan anggaran penelitian sebesar Rp4 triliun. Kepala BRIN Arif Satria mengatakan tambahan pendanaan tersebut diarahkan untuk mempercepat pengembangan dan hilirisasi berbagai inovasi nasional.

“Beliau sudah memberikan policy akan ada tambahan Rp4 triliun dana riset. Saat ini antara Mendikti Saintek dan BRIN sedang menyusun proposal dan proporsinya sedang diatur,” kata Arif.

BRIN sendiri mengajukan tambahan sekitar Rp1 triliun untuk mendorong hilirisasi hasil penelitian yang telah dipaparkan kepada Presiden.

Sejumlah inovasi yang mendapat perhatian antara lain pengembangan benih unggul padi dan bawang dengan produktivitas tinggi, teknologi desalinasi dan pengolahan air, obat-obatan berbiaya murah, vaksin, pengelolaan sampah, hingga pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomi.

Di sektor energi, teknologi Absorbed Natural Gas (ANG) berbasis Metal Organic Framework juga dinilai memiliki potensi besar. Teknologi tersebut memungkinkan penyimpanan gas alam dengan kapasitas lebih besar pada tekanan rendah sehingga berpeluang menjadi alternatif terhadap LPG impor.

“Kalau biasanya orang menggunakan tabung LPG 3 kilogram dalam waktu 10 hari, dengan menggunakan ANG yang dimiliki BRIN ini bisa menjadi 15 hari. Itu efisiensi yang sangat bagus sekali,” ujar Arif.

Jika berhasil dikomersialisasikan, inovasi tersebut diperkirakan mampu menghemat devisa hingga Rp26 triliun per tahun.

Prasetyo menambahkan, Presiden meminta setiap hasil penelitian dihitung nilai keekonomian dan kapasitas produksinya agar dapat dikembangkan dalam skala besar.

“Kalau kita bicara penelitian, pada ujungnya harus ada kemampuan untuk memproduksi dalam jumlah yang cukup besar karena memang yang kita perlukan jumlahnya cukup banyak,” katanya.

Melalui penguatan pendanaan dan hilirisasi riset, pemerintah berharap inovasi nasional semakin mampu menopang kemandirian energi, memperkuat ketahanan pangan, menciptakan produk bernilai tambah, sekaligus menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sambut Kemerdekaan, Masyarakat Diajak Perkuat Persatuan dan Tolak Provokasi

Mata Indonesia, Jakarta - Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, masyarakat diajak bersama-sama menjaga persatuan, kerukunan, dan situasi...
- Advertisement -

Baca berita yang ini