Mata Indonesia, JAKARTA – Memasuki tahun 2026, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat optimalisasi lahan dan menjalankan program strategis daerah. Langkah tersebut dilakukan untuk menyelaraskan program swasembada pangan Pemerintah Pusat di daerah. Kemenperin juga terus memacu pengembangan usaha dan peningkatan daya saing industri pati ubi kayu nasional melalui diversifikasi spesifikasi, substitusi impor, serta penguatan rantai pasok.
Sebagai wujud komitmen memperluas pasar industri pati ubi kayu dalam negeri, Kemenperin bersama Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI) menggelar Business Matching Pati Ubi Kayu di Jakarta. Upaya ini sejalan dengan salah satu key point Strategi Besar Industri Nasional (SBIN) yang berlandaskan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, yakni penguatan backward-forward linkaged guna menciptakan rantai nilai industri yang terintegrasi dan efisien.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan industri pati ubi kayu memiliki peluang besar untuk terus ditingkatkan kinerjanya. Langkah ini bertujuan untuk memastikan kebutuhan industri pati ubi kayu dapat dipenuhi secara optimal oleh produk dalam negeri melalui upaya mempertemukan industri produsen dengan industri pengguna.
“Saat ini terdapat 125 perusahaan pati ubi kayu dengan tingkat utilisasi 43 persen dan telah menguasai pasar dalam negeri mencapai 79 persen. Kami optimis industri pati ubi kayu dapat ditingkatkan kembali dan mampu melakukan penetrasi pasar lebih luas lagi,” kata Agus di Jakarta.
Menteri Agus menambahkan, meski memiliki potensi besar, industri pati ubi kayu dinilai masih menghadapi tantangan, terutama persaingan harga dan mutu dengan produk impor.
“Kemenperin mendorong penguatan sinergi antara produsen pati ubi kayu dan industri pengguna, salah satunya melalui penerapan mekanisme Neraca Komoditas (NK),” imbuhnya.
Menperin juga mengapresiasi upaya para pelaku industri produsen dan pengguna dalam meningkatkan kinerja, memperluas akses pasar, serta mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku dan produk dalam negeri.
“Kemenperin mengakselarasi industrialisasi berbagai sumber daya alam melalui penguatan keterkaitan hulu-hilir pada komunitas strategi pati ubi kayu. Diharapkan industri pati ubi kayu mampu melakukan diversifikasi spesifikasi sesuai kebutuhan industri pengguna,” tutur Agus.
Pati ubi kayu merupakan komoditas strategis dan memiliki nilai tambah yang tinggi. Komoditas ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk pangan seperti pemanis, bumbu, makanan tingan dan mie. Sementara untuk non pangan, pati ubi kayu dapat dimanfaatkan untuk produk kertas, bahan kimia, dan ethanol.
Sektor ini ikut mencatatkan prestasi yang baik dengan meningkatnya nilai ekspor pati ubi kayu hingga mencapai US$ 18,7 juta pada bulan November 2025 atau naik hingga 58,34 persen dibandingkan pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Eva Dewiyani, mengatakan memasuki tahun 2026 pihaknya akan terus memperkuat optimalisasi lahan dan menjalankan program strategis daerah. Langkah tersebut dilakukan untuk menyelaraskan program swasembada pangan Pemerintah Pusat di daerah.
“NTB optimistis dapat terus menjaga tren peningkatan produksi sekaligus memperkuat ketahanan pangan, sebagai bagian dari kontribusi daerah dalam mewujudkan cita-cita nasional menuju kebangkitan swasembada pangan Indonesia,” ucap Eva.
