Pemerintah Tak Naikkan BBM di Tengah Gejolak Global, Tokoh Nasional Ajak Masyarakat Tetap Tenang

Baca Juga

Mata Indonesia, Jakarta — Pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) meskipun tekanan global terhadap harga energi terus meningkat. Kebijakan ini diapresiasi berbagai kalangan sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan daya beli masyarakat.

Sejumlah tokoh nasional turut menyampaikan dukungan atas kebijakan ini. Mantan Presiden RI ke-7, Joko Widodo (Jokowi) memuji pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang hingga saat ini tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), meskipun harga minyak mentah dunia tengah mengalami kenaikan akibat perang AS-Israel melawan Iran.

“Saya tahu perang Rusia dan Ukraina belum selesai, ditambah Israel dengan Palestina belum rampung, ditambah lagi sekarang ini Israel-AS dengan Iran yang menyebabkan ketidakpastian dunia, dan menyebabkan semua negara pusing menghadapi ketidakpastian ini,” kata Jokowi.

Jokowi kemudian mengapresiasi langkah pemerintah yang saat ini belum menaikkan harga BBM di dalam negeri.

“Tapi pemerintah kita di bawah kepimpinan Bapak Prabowo Subianto masih mampu mengendalikan dengan harga yang sama. Bayangkan, negara lain sudah naik 40-60 persen, kita tidak naik. Pertalite masih Rp10 ribu, Pertamax mungkin harganya Rp12.400-Rp12.500, masih harga yang sama,” ucapnya.

Ia pun mengapresiasi hal ini sebagai keputusan yang berani.

“Menurut saya ini sebuah keputusan yang berani, sebuah keputusan yang dihitung dengan kalkulasi yang detail dan matang. Sehingga keberanian itu menyebabkan beliau (Prabowo) memutuskan tidak naik sampai hari ini. Meskipun dengan resiko APBN, yang kita harapkan masih mampu menahan lajunya harga minyak yang naik terus. Karena rampungnya kapan, nggak jelas,” ujar Jokowi.

Senada, Putri Presiden ke-4 RI Abdurahman Wahid, Yenny Wahid, mengapresiasi Presiden Prabowo Subianto tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Menurutnya, hal ini adalah langkah baik yang diambil pemerintah.

“Saya mengapresiasi langkah pemerintah, mengapresiasi Presiden Prabowo yang kemarin membuat pernyataan bahwa tidak akan menaikkan harga BBM,” kata Yenny.

Yenny juga mengatakan harga BBM mempengaruhi kebutuhan rumah tangga. Sebab, hal itu berpengaruh terhadap kebutuhan bahan-bahan pokok.

“Ini buat kita tentu sangat signifikan karena ini berdampak besar pada harga-harga barang pokok, harga-harga semua kebutuhan ya, dan tentunya kebutuhan dapur yang paling utama,” jelas Yenny.

Kebijakan ini juga dinilai mampu memberikan ruang bagi sektor usaha untuk tetap bergerak dan menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional. Pemerintah memastikan akan terus memantau perkembangan global dan siap mengambil langkah adaptif jika diperlukan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini