Pemda Sorong Tutup Jalur Perdagangan Demi Antisipasi Virus Demam Babi

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Berdasarkan riset, flu babi Afrika berbeda dengan flu babi. Flu babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) adalah virus yang menyerang hewan babi, baik babi hutan yang liar, maupun babi lokal di peternakan.

Guna mencegah masuknya flu atau demam babi Afrika –virus yang berasal dari virus family Asfadviridae, Pemerintah Kota Sorong, Provinsi Papua Barat pun menutup jalur perdagangan babi, baik ke luar maupun masuk ke daerah tersebut.

Langkah ini ditempuh pemerintah setempat demi mengantisipasi virus ini agar tidak menyerang ternak masyarakat di daerah Sorong, Papua Barat.

Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kota Sorong, drh. Fidiana Krisnaningsih dalam diskusi bersama komunitas pemburu babi hutan di daerah Sorong Raya menyatakan, virus demam babi sudah menyerang ternak babi masyarakat Manokwari. Di mana ratusan ekor babi dilaporkan mati mendadak.

“Kami tutup jalur perdagangan babi antardaerah untuk mengamankan ternak babi masyarakat setempat karena virus demam babi mudah menular,” kata drh. Fidiana, Kamis, 17 Juni 2021.

Virus demam babi atau flu babi Afrika sejatinya tidak membahayakan manusia. Namun, jelas membahayakan hewan babi, karena menyebabkan kematian secara mendadak, terlebih bila tidak ada vaksin untuk hewan tersebut.

Dr. Fidiana pun mengimbau warga setempat untuk terus memberikan informasi dan melaporkan kondisi terkini terkait ternak babi yang mereka miliki. Selain itu, sang dokter menyarankan masyarakat untuk membakar atau mengubur babi mereka yang mati agar virus tersebut tidak menular ke babi lainnya.

Untuk diketahui, binatang yang terinfeksi virus demam babi ini akan mengalami demam tinggi dan pendarahan di organ bagian dalam tubuhnya. Sekitar 90 persen babi hutan yang terinfeksi virus ini mati dalam jangka waktu sepekan.

Virus ini menular melalui kontak dengan cairan tubuh atau darah babi hutan atau babi ternak yang terinfeksi. Virus masih tetap aktif dalam bangkai hewan yang mati akibat penyakitnya, bahkan sampai beberapa bulan atau tahun. Dan sekali lagi, virus ni biasanya tidak menular pada manusia.

Virus demam babi berasal dari Afrika. Diagnosa pertama berasal tahun 1910 saat Inggris menjajah Kenya. Bersama dengan kolonialisme juga para penjajah membawa ternak babi Eropa ke Afrika Timur. Peternakan besar menjadi persemaian ideal bagi virus ini. Peternak babi di Afrika berulangkali dilanda wabah ini pada abad yang lalu.

Virus ini pertama kalinya masuk ke Eropa tahun 2007 melalui kawasan Kaukasus, dari sana kemudian menyebar ke Rusia lalu ke kawasan Baltik, Polandia, dan negara-negara Eropa timur lainnya. Pada September 2018, virus demam babi ditemukan di Belgia. Tahun 2020 Jerman mengkonfirmasi menemukan bangkai seekor babi hutan yang mati akibat virus ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Indonesia Tawarkan Upaya Konkret Penanganan Air Dalam WWF ke -10

Rangkaian pertemuan World Water Forum (WWF) ke-10 tahun 2024 di Nusa Dua, Bali menghasilkan diskusi yang konstruktif dalam rangka...
- Advertisement -

Baca berita yang ini