Pemakaman Putri Diana Lebih Banyak Sedot Penonton ketimbang Ratu Elizabeth II

Baca Juga

MATA INDONESIA, LONDON – Menurut statistik televisi di Inggris, pemakaman Ratu Elizabeth II disaksikan lebih dari 26 juta penonton yang merupakan salah satu penonton terbesar di sepanjang pertelevisian Inggris.

Menurut organisasi penelitian Barb, pemakaman Ratu Elizabeth II disiarkan ke beberapa saluran dengan rata-rata 26,2 juta penonton. Tapi, pemakaman Putri Diana pada 1997 menyedot lebih banyak penonton di Amerika Serikat dan Inggris.

Rata-rata penonton di Amerika Serikat yang menonton pemakaman Ratu Elizabeth II sekitar 11,4 juta orang atau berbeda jauh dari pemakaman Putri Diana yang mencapai 33,2 juta orang.

Di Inggris, sekitar 27 juta orang menonton pemakaman Ratu Elizabeth II sedangkan pada pemakaman Putri Diana tercatat 32 juta penonton. Dari segi rating, pemakaman Ratu Elizabeth II juga lebih rendah dibandingkan Putri Diana, terutama di Amerika Serikat.

Fakta menarik lainnya adalah pernikahan Pangeran Harry dan Pangeran William lebih banyak ditonton di televisi ketimbang kematian nenek mereka. Pernikahan mereka masing-masing menarik 29,2 juta dan 22,7 juta pemirsa Amerika Serikat.

Tapi, pemakaman Ratu Elizabeth II mengalahkan rating final Piala Eropa 2020 yang digelar pada Juli 2021. Saat itu, jumlah penonton final Piala Eropa 2020 adalah 22,5 juta orang yang menyaksikan melalui BBC dan ITV.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini