Pasien Nol Covid-19 di Prancis Buka Identitas, Ini Sosoknya

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Seorang pria bernama Amirouche Hammar membuka identitas dirinya, dengan mengaku sebagai pasien nol atau orang yang pertama terjangkit Covid-19 di Prancis.

Pria berusia 43 tahun itu mengungkap jati dirinya setelah mendapat laporan dari rumah sakit. Ia terjangkit corona pada 27 Desember 2019 lalu, dengan catatan penting, Hammar tidak pernah berkunjung ke Cina.

Mengutip Daily Mail, Selasa 5 Mei 2020, pengakuan Hammar mengejutkan semua pihak. Jika ia benar terjangkit pada akhir Desember 2019, maka Covid-19 sudah menyebar jauh sebelum kasus pertama terkonfirmasi pada 24 Januari 2020 lalu.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menanggapi temuan pasien nol di Prancis ini. Juru Bicara WHO Christian Lindmeier mengatakan, semua negara harus segera melakukan pengecekan ulang terhadap kasus aneh yang terjadi akhir Desember 2019.

“Sangat mungkin kasus awal lain bakal lebih banyak ditemukan,” kata Lindmeier.

Hingga kini, belum ada yang tahu bagaimana pertama kali Hammer terjangkit Covid-19. Diduga kuat, virus dibawa oleh istrinya yang bekerja di supermarket dekat Bandara Charles de Gaulle, yang salah satu koleganya adalah keturunan Cina.

“Kami memperkirakan jika dia (istri Hammer) adalah orang tanpa gejala,” ucap Dr Yves Cohen dari Rumah Sakit Avicenne, tempat Hammar dirawat.

Ketika pertama kali sakit, Hammar mengungkapkan dia menderita demam, batuk, dan sulit bernapas yang merupakan gejala dari Covid-19. Dia awalnya mengira terkena flu. Namun karena bingung dengan gejalanya, akhirnya dia memutuskan untuk segera pergi ke rumah sakit.

Tim medis sempat kesulitan mengidentifikasinya, hanya menyebutkan dia terkena infeksi paru-paru dan mengatakan penyakitnya sangat serius. Setelah beberapa hari dirawat, dia diizinkan pulang karena sudah sembuh. Tidak menyadari bahwa dia terkena penyakit yang sudah menginfeksi 3,7 juta orang di dunia tersebut.

Sementara Cina hingga kini masih memburu pasien nol Covid-19 yang pertama di dunia. Namun, buramnya catatan medis dan data pendukung membuat pencarian tersebut sulit.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Minyakita dan Strategi Pemerintah Menjaga Keseimbangan Pasar

Oleh : Antonius UtomoMinyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar dan tingkat konsumsi minyak goreng yang tinggi, stabilitas harga dan ketersediaan produk inimenjadi perhatian utama pemerintah. Dalam konteks tersebut, program Minyakita hadir sebagaiinstrumen strategis untuk memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh minyak goreng dengan harga yang terjangkau sekaligus menjaga keberlangsungan industri sawit dan minyakgoreng nasional.Sejak diperkenalkan sebagai minyak goreng rakyat, Minyakita dirancang untuk menjadi solusiatas fluktuasi harga minyak goreng yang kerap terjadi akibat dinamika pasar global maupundomestik. Keberadaan Minyakita tidak hanya bertujuan menjaga daya beli masyarakat, tetapijuga menjadi bagian dari upaya pemerintah menciptakan keseimbangan antara kepentingankonsumen, produsen, distributor, dan pelaku usaha di seluruh rantai pasok. Dengan demikian, Minyakita menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasionalyang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.Kementerian Perdagangan bersama berbagai pemangku kepentingan juga terus memperkuatmekanisme distribusi agar Minyakita dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara lebihefektif. Dalam pelaksanaannya, pemerintah melibatkan berbagai pihak, termasuk BUMN pangan seperti Bulog dan ID Food, guna memperluas jaringan distribusi dan memperkuatpengawasan terhadap penyaluran minyak goreng rakyat. Langkah ini menjadi bagian daristrategi besar pemerintah untuk memastikan bahwa manfaat program Minyakita dapatdirasakan secara merata oleh masyarakat di berbagai daerah.Upaya tersebut menunjukkan bahwa pengendalian harga tidak semata-mata dilakukan melaluipenetapan Harga Eceran Tertinggi (HET), tetapi juga melalui pembenahan tata niaga dan rantaidistribusi. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perbedaan harga di tingkat konsumen sering kali dipengaruhi oleh hambatan distribusi, biaya logistik, dan keterbatasan pasokan di wilayah tertentu....
- Advertisement -

Baca berita yang ini