Pasca Gempa Ambon, Masih Ada 103 Ribu Pengunsi Belum Pulang ke Rumah

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA - Setelah gempa yang terjadi di Ambon, Maluku dan sekitarnya pada September lalu, saat ini tercatat masih ada 103 ribu orang yang mengungsi di tenda-tenda darurat.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebut jumlah itu berdasarkan data per Rabu 16 Oktober 2019 pukul 18.00 WIB.

Selain lebih 100 ribu pengungsi, 41 orang dinyatakan tewas akibat gempa. Semenatara korban luka-luka mencdapai 365 orang.

“Korban meninggal dunia berjumlah 41 orang, dengan rincian Kabupaten Maluku Tengah 18 orang, Kota Ambon 12 dan Seram Bagian Barat 11,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo, dalam keterangan tertulis, Kamis 17 Oktober 2019.

Tak hanya korban jiwa, 8.753 unit rumah mengalami kerusakan ringan hingga berat. BNPB menyebut rumah yang rusak itu tersebar di sejumlah titik di Maluku.

Agus mengatakan, pihaknya masih terus bekerja sama dengan ITB dan BMKG akan memasang 11 seismograf di kawasan Maluku. Hal tersebut untuk mengetahui karakteristik gempa susulan pascagempa M 6,5 yang terjadi pada 26 September 2019.

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini