Model Majalah Playboy Tawar Tisu Bekas Air Mata Messi Rp8,6 M

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Model majalah Playboy, Luana Sandien, ingin membeli tisu bekas air mata Lionel Messi. Dia menawar dengan harga 438 ribu Poundsterling (8,6 miliar Rupiah).

Messi tak kuasa membendung air matanya saat acara perpisahan dengan Barcelona pada 8 Agustus lalu. Sebelum memulai pidato, pemain 34 tahun itu menangis.

Sang istri, Antonela Roccuzzo memberikan sebuah tisu kepada Messi untuk mengelap air matanya. Kemdian, seseorang menjual secara online bekas tisu yang mengandung air mata Messi.

Harga tisu itu dipatok 1 juta Dolar AS atau sekitar 14 miliar Rupiah. Setelah melihat tisu tersebut dijual online, Sandien langsung mengajukan penawaran.

“Saya menawar 600 ribu Dolar AS untuk mendapatkan tisu Messi, tapi tak lama kemudian iklannya hilang. Saya memberikan lebih dari setengah jumlah yang diiklankan dengan keyakinan saya akan menang, tetapi iklan itu menghilang setelah tawaran saya, entah ke mana,” ujarnya, dikutip dari The Sun, Selasa 24 Agustus 2021.

“Iklan itu hilang tanpa memberikan informasi lebih lanjut tentang hasilnya. Jadi saya tidak tahu apakah ada yang membeli barang itu atau apakah pengiklan menyerah. Saya harap saya berhasil,” katanya.

Sandien adalah salah satu fan Barceloa. Bahkan, dia pernah tampil di cover majalah Playboy Afrika dengan berpose menggunakan jersey klub asal Katalunya itu. Saat ini Messi memilih melanjutkan kariernya bersama PSG. Dia dikontrak dua tahun dengan opsi perpanjangan satu tahun.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini