MataIndonesia, JAYAPURA – Aksi penembakan terhadap pilot pesawat AMA Air serta pembakaran pesawat misi kemanusiaan di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, mendapat kecaman keras dari berbagai kalangan. Peristiwa tersebut dinilai bukan hanya sebagai tindak kriminal, tetapi juga sebagai serangan terhadap pelayanan kemanusiaan yang selama puluhan tahun menjangkau masyarakat pedalaman Papua.
Uskup Jayapura yang juga Komisaris PT AMA, Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You, menyampaikan duka mendalam atas insiden tersebut. Menurutnya, tragedi itu menjadi pukulan berat bagi Gereja Katolik dan seluruh keluarga besar AMA yang selama 67 tahun konsisten melayani masyarakat Papua melalui transportasi udara.
“Selama 67 tahun AMA melayani Papua, kami sudah terbiasa menghadapi risiko kecelakaan akibat cuaca maupun kendala teknis. Namun tindakan kejahatan yang disengaja seperti ini sangat sulit kami terima. Ini adalah tindakan biadab dan tidak berperikemanusiaan,” tegas Mgr. Yanuarius.
Ia juga membantah berbagai tuduhan di media sosial yang mengaitkan pesawat AMA dengan aktivitas militer. Menurutnya, seluruh penerbangan AMA semata-mata menjalankan misi kemanusiaan untuk mengangkut tenaga kesehatan, pendidikan, pelayanan rohani, serta kebutuhan pokok masyarakat di daerah terpencil.
“Pesawat AMA tidak pernah digunakan untuk mengangkut anggota TNI, Polri, TPNPB maupun amunisi. Kami berkomitmen penuh pada misi kemanusiaan. Tuduhan yang menyebut pesawat kami membawa kepentingan militer atau politik adalah fitnah yang tidak berdasar,” ujarnya.
Mgr. Yanuarius menambahkan bahwa operasional AMA di wilayah pedalaman didukung pemerintah melalui subsidi penerbangan perintis guna menjamin distribusi logistik dan pelayanan kepada masyarakat. Ia menegaskan, penerbangan menuju Balingama selama ini berlangsung normal tanpa adanya ancaman sebelumnya.
Direktur PT AMA, Bob Kayadu, mengatakan insiden tersebut berpotensi mengganggu keberlangsungan pelayanan udara bagi masyarakat pedalaman apabila keamanan awak pesawat tidak dapat dijamin.
“Bukan tidak mungkin operasional maskapai misi di Papua akan dihentikan jika rasa aman pilot tidak terjamin. Trauma yang dialami kru dapat mengancam keberlangsungan layanan yang selama ini menjadi urat nadi masyarakat pedalaman,” katanya.
Sementara itu, Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III, Letjen TNI Lucky Avianto, mengutuk keras pembunuhan terhadap pilot AMA Air. Ia menegaskan bahwa korban merupakan pelayan masyarakat yang tidak bersenjata dan tengah menjalankan tugas kemanusiaan.
“Kita menyaksikan sendiri TPNPB-OPM dengan sangat keji membunuh pelayan masyarakat, bahkan orang yang tidak berdosa. Kami mengutuk keras kejadian ini,” ujar Lucky.
Ia mengajak kelompok bersenjata untuk menghentikan kekerasan dan kembali membangun Papua secara damai. “Kepada saudara-saudara OPM yang ada di hutan-hutan, mari meletakkan senjata dan kembali ke kehidupan normal sebagai masyarakat, bersama kami membangun Papua yang aman, damai, dan sejahtera,” ucapnya.
Lucky juga memastikan tujuh penumpang pesawat yang seluruhnya merupakan warga lokal berhasil selamat berkat bantuan tokoh adat dan tokoh agama dalam proses evakuasi. Aparat keamanan, lanjutnya, akan terus memburu pelaku sekaligus memastikan pelayanan publik dan penerbangan kemanusiaan di Papua tetap dapat berlangsung dengan aman demi kepentingan masyarakat.

