Koeman Pasrah Messi Pergi

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pelatih Barcelona, Ronald Koeman pasrah apabila sang megabintang, Lionel Messi ingin meninggalkan klub. Pelatih yang menggantikan peran Quique Setien itu pun menegaskan, ia takkan mengandalkan sosok Lionel Messi dalam skuad besutannya.

Sudah menjadi rahasia umum bila La Pulga –julukan Messi, merupakan pemain andalan Blaugrana. Barcelona adalah Messi, dan Messi adalah Barcelona. Maklum saja, selama perjalanan karier pemain asal Argentina itu di lapangan hijau, hanya klub asal Katalan-lah yang ia bela.

Messi baru berusia 13 tahun saat pertama kali tiba di Barcelona, yakni pada September 2000. Pemain bernama lengkap Lionel Andres Messi sukses menyihir banyak mata saat berada di pusat latihan.

Kemampuan Messi pun membuat para petinggi Barcelona jatuh hati. Pada Desember 2000, ia pun menandatangi kontrak dengan Barca. Menariknya, hal tersebut terjadi saat jamuan makan siang dan di atas sebuah serbet makan!

Perlahan namun pasti, nama Messi pun mendunia, meramaikan setiap berita sepakbola. Ya, Messi menjelma menjadi salah satu pemain terbaik yang pernah ada. Messi is an Alien! Pernyataan ini muncul ke permukaan lantaran apa yang dilakukannya seolah tak nyata.

“Saya selalu berharap Messi akan bertahan untuk musim ini. Apabila ia akan pergi pada musim panas nanti, saya akan mengalami situasi yang berbeda di Barca. Dia ingin pergi tapi klub sangat jelas baginya,” kata Koeman, melansir Football Espana, Minggu, 18 Oktober 2020.

“Banderolnya sangat tinggi, sehingga tidak ada satu klub di dunia yang akan membayarnya saat ini. Saya pergi ke rumahnya dan meluangkan waktu untuk mendengarkan semua yang dia katakan,” sambungnya.

“Tetapi saya juga menjelaskan kepadanya bahwa saya tidak menjadi bagian dari masalah yang dia hadapi bersama klub. Dia masih ingin mengerahkan semua yang ia miliki untuk Barcelona,” tuntas pelatih berkebangsaan Belanda itu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Danantara, PSEL, dan Masa Depan Pengelolaan Sampah Indonesia

*) Oleh: Citra Ningrum OktaviaPemerintah tengah menghadapi salah satu tantangan paling mendesak dalampembangunan nasional, yakni darurat sampah perkotaan yang selama bertahun-tahun berjalan tanpa penyelesaian menyeluruh. Timbunan sampah yang terusmeningkat tidak lagi sekadar persoalan kebersihan lingkungan, melainkan telahmenjadi ancaman serius bagi kesehatan publik, kualitas ekosistem, hingga ketahananenergi nasional. Di tengah situasi tersebut, langkah pemerintah menggandengDanantara Indonesia untuk mempercepat pembangunan fasilitas PengolahanSampah menjadi Energi Listrik (PSEL) merupakan keputusan strategis yang menunjukkan keberanian negara keluar dari pola lama pengelolaan sampah yang stagnan. Penandatanganan nota kesepahaman pembangunan PSEL di enam lokasibersama 13 pemerintah daerah menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak lagi bekerjadengan pendekatan parsial, tetapi mulai membangun sistem pengelolaan sampahyang terintegrasi dan berorientasi jangka panjang.Lebih jauh, penerbitan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentangpercepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrikmemperlihatkan adanya keseriusan politik pemerintah dalam membenahi tata kelolasampah nasional. Menko Pangan, Zulkifli Hasan menegaskan bahwa regulasitersebut telah mendorong langkah konkret pemerintah pusat dan daerah untukbergerak lebih cepat dalam pembangunan PSEL. Target pembangunan sedikitnya 25 lokasi PSEL dalam dua hingga tiga tahun ke depan bukan hanya ambisi administratif, melainkan kebutuhan nyata untuk mengatasi kedaruratan sampah di puluhankabupaten dan kota. Selama ini, banyak proyek pengolahan sampah tersendat akibatbirokrasi panjang, lemahnya koordinasi antarlembaga, dan ketidakjelasan pembagiankewenangan. Karena itu, penyederhanaan prosedur serta pembagian peran yang jelas antara pemerintah, Danantara, dan pihak-pihak terkait menjadi fondasi pentingagar proyek strategis ini tidak kembali terjebak pada pola lamban yang merugikanmasyarakat.Selain itu, keterlibatan Danantara Indonesia memberi dimensi baru dalampembiayaan dan tata kelola proyek infrastruktur lingkungan di Indonesia. Selama ini, pengelolaan sampah kerap dipandang sebagai sektor yang minim nilai ekonomisehingga tidak menarik bagi investor besar. Padahal, di berbagai negara maju, pengolahan sampah telah berkembang menjadi industri energi hijau yang bernilaitinggi dan berkelanjutan....
- Advertisement -

Baca berita yang ini