Kisah Haru Atlet 12 Tahun Asal Suriah Debut di Olimpiade 2020

Baca Juga

MATA INDONESIA, TOKYO – Hend Zaza baru berusia 12 tahun dan mampu tampil di Olimpiade 2020. Atlet tenis meja itu punya impian besar demi negaranya, Suriah.

Sepanjang sejarah Olimpiade, banyak atlet usia muda yang tampil memukau di panggung dunia. Tak terkecuali di Tokyo tahun ini. Zaza, yang masih belia, berhasil lolos ke Olimpiade perdananya.

Besar di negara konflik tak membuat Zaza berkecil hati. Kecintaannya pada tenis meja membawanya tampil di Olimpiade, impian semua atlet. Dia memastikan lolos dan terbang ke Tokyo setelah mengalahkan petenis meja asal Lebanon berusia 42 tahun, Mariana Sahakian di babak kualifikasi Asia.

Zaza merupakan atlet tenis meja pertama asal Suriah yang berhasil memenangkan gelar di level nasional. Kini, dia siap membuat kejutan di Olimpiade yang diikuti atlet-atlet top dari seluruh dunia.

Kelolosannya ke Olimpiade sangat disyukuri Zaza. Dia mendedikasikannya untuk negara dan keluarga.

“Ini adalah hadiah untuk negara saya, orangtua saya, dan semua teman-teman saya,” katanya, dikutip dari Marca, Jumat 23 Juli 2021.

Seperti kebanyakan orang Suriah, masa kecil Zaza tidak kondusif. Pasalnya, Suriah merupakan negara konflik dan terjadi perang saudara. Zaza adalah anak bungsu dari lima saudara. Darah olahraga mengalir dalam dirinya. Empat kakaknya dan ayahnya adalah mantan pesepakbola.

“Olahraga mengalir dalam darah saya. Keluarga saya memberikan dukungan luar biasa sejak awal. Sebagai anak paling kecil, mereka selalu menjaga saya. Mereka membantu saya terus maju di olahraga,” ujarnya.

Meski sudah jadi atlet profesional, Zaza tak melupakan pendidikannya. Dia masih sekolah dan sangat menyukai pelajaran matematika.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini