Juventus Juara Piala Italia, Kado Spesial di Ultah Pirlo

Baca Juga

MATA INDONESIA, REGGIO EMILIA – Juventus meraih trofi kedua musim ini dengan menjuarai Piala Italia. Kemenangan spesial untuk Andrea Pirlo yang merayakan ulang tahun.

Berlaga di Stadion Mapei, Kamis 20 Mei 2021 dini hari WIB, Juventus mengalahkan Atalanta dengan skor 2-1. Dua gol Bianconeri dicetak Dejan Kulusevski dan Federico Chiesa. Gol tunggal Atalanta dicetak Ruslan Malinovsky.

Ini merupakan trofi kedua Juventus setelah sebelumnya menjuarai Piala Super Italia mengalahkan Napoli pada Januari lalu dengan skor 2-0. Kemenangan ini terasa lebih spesial bagi Pirlo yang merayakan ulang tahun ke-42 pada 19 Mei.

“Kami memang sangat ingin menang dan membawa trofi ini pulang meskipun perjalanan kami musim ini tak terlalu positif. Kami bangkit bersama-sama, memikirkan bahwa Piala Italia adalah target penting. Kami mengalahkan tim hebat di semifinal dan final. Jadi, kami pantas juara,” kata Pirlo, dikutip dari Football Italia, Kamis 20 Mei 2021.

“Ini pertandingan yang indah dimana kedua tim berjuang keras sejak awal. Ini final yang pantas dan juga bagus untuk fans yang bisa hadir. Jadi, kami bahagia dan bisa memberikan kebahagiaan untuk fans,” ujarnya.

Pirlo pernah menjuarai Piala Italia sebagai pemain, dan kini dia melakukannya sebagai pelatih. Menurut dia, lebih sulit menjadi juara sebagai pelatih.

“Lebih sulit menjadi juara sebagai pelatih dibandingkan pemain. Terkadang Anda memanggil pemain tapi mereka tidak bisa mendengar atau Anda bisa melihat sesuatu dari pinggir lapangan yang tak bisa dilihat pemain,” ujarnya.

“Para pemain selalu mendukung saya 100 persen dan sebagai pelatih itu membuat saya bahagia tidak peduli apa pun berita yang ada di media massa,” ungkapnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini