Jualan Narkoba, Ibu dengan 9 Anak di Malaysia Divonis Hukuman Mati!

Baca Juga

MATA INDONESIA, SABAH – Pengadilan Tinggi Tawau di Kota Sabah, Malaysia menjatuhi hukuman mati kepada seorang ibu berusia 55 tahun. Perempuan bernama Hairun Jalmani itu dinyatakan bersalah karena memiliki dan mendistribusikan narkoba.

Jalmani merupakan ibu tunggal dari sembilan anak yang divonis oleh Hakim Alwi Abdul Wahab pada 15 Oktober. Ia ditangkap dengan barang bukti seberat 113,9 gram metamfetamin pada Januari 2018.

Video Jalmani yang menangis tanpa henti setelah vonis mati pengadilan menjadi viral di media sosial. Vonis tersebut juga memicu perdebatan sengit mengenai hak-hak kaum perempuan dan hukuman mati di Negeri Jiran.

Video berdurasi 45 detik itu menunjukkan Jalmani yang diborgol menangis saat dia dibawa pergi dari gedung pengadilan. Dia juga memohon bantuan di luar ruang sidang sambil terus terisak tak terkendali.

Di bawah hukum Malaysia, mereka yang ditemukan memiliki lebih dari 50 gram barang haram, metamfetamin menghadapi hukuman mati. Malaysia merupakan salah satu negara yang menerapkan hukuman mati terhadap para pelaku pelanggaran narkoba, selain Cina, Iran, Arab Saudi, Vietnam, serta Singapura.

Para kritikus mengatakan bahwa hukuman keras sangat ditanggung oleh kaum perempuan yang terpinggirkan di negara itu, terutama yang rentan.

Mereka juga menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan terpidana mati di Malaysia telah dijatuhi hukuman di bawah undang-undang perdagangan narkoba yang ketat yang gagal mempertimbangkan realitas kehidupan sosial-ekonomi mereka yang rentan.

Menurut laporan Amnesty International, hingga Februari 2019, sebanyak 1.281 orang dilaporkan terpidana mati di Malaysia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 568 orang, atau 44 persen, adalah warga negara asing.

“Dari total, 73 persen telah dihukum karena perdagangan narkoba,” kata laporan itu, menambahkan bahwa angka tersebut meningkat menjadi 95 persen dalam kasus perempuan, melansir Yahoo News, Rabu, 20 Oktober 2021.

“Beberapa etnis minoritas terwakili secara berlebihan di terpidana mati, sementara informasi lain menunjukkan bahwa sebagian besar terpidana mati adalah orang-orang dengan latar belakang sosial ekonomi yang kurang beruntung,” tambah laporan itu.

Amnesty Internasional mengatakan bahwa kasus Jalmani adalah contoh bagaimana hukuman mati di Malayisa menghukum orang miskin dengan diskriminasi khusus terhadap kaum perempuan.

Badan tersebut menambahkan bahwa perempuan yang telah menjadi sasaran kekerasan, pelecehan, dan eksploitasi memiliki sedikit atau tidak ada kesempatan untuk memperhitungkan faktor-faktor ini dalam hukuman.

Tahun 2017, Wakil Ketua Senior Yayasan Pencegahan Kejahatan Malaysia Tan Sri Lee Lam Thye — yang juga menjabat sebagai mantan Wakil Presiden Asosiasi Pencegahan Narkoba Malaysia, mengatakan bahwa faktor sosial ekonomi seperti kemiskinan dan kurangnya kesempatan kerja menjadi alasan penggunaan narkoba di kalangan nelayan.

“Banyak dari mereka hidup dalam kondisi kumuh, baik di rumah mereka yang bobrok maupun di perahu nelayan. Ini adalah salah satu faktor utama yang menyebabkan mereka menggunakan narkoba,” kata Tan Sri Lee Lam Thye.

Sementara Amnesti Malaysia mempertanyakan kebijakan pemerintah Malaysia. Menurut mereka, hukuman mati merupakan ketidakadilan bagi seorang Jalmani.

“Mengapa hak untuk hidup begitu mudah ditolak oleh pemerintah? Siapa yang tetap aman ketika seorang ibu tunggal dari sembilan anak dijatuhi hukuman mati dan dipisahkan dari anak-anaknya? Keadilan apa yang diberikan ketika ketidaksetaraan struktural dan penindasan yang menciptakan kondisi untuk tuntutannya tetap ada?” tuturnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Pemerintah Optimalkan Sekolah Rakyat untuk Tingkatkan Kualitas Pendidikan

Oleh: Yoga Pradana SantosoPemerintah terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasionalmelalui percepatan dan optimalisasi program Sekolah Rakyat yang kini menunjukkan progressignifikan di berbagai daerah, sekaligus menjadi bukti bahwa pemerataan akses pendidikan tidaklagi sebatas wacana, melainkan telah dijalankan secara konkret dan terukur sebagai bagian dariagenda pembangunan sumber daya manusia. Dalam satu tahun terakhir, pemerintah jugamencatat berbagai keberhasilan penting, mulai dari percepatan pembangunan infrastrukturpendidikan, peningkatan akses belajar di wilayah tertinggal, hingga penguatan kolaborasi lintaskementerian yang berdampak langsung pada masyarakat, sehingga kehadiran Sekolah Rakyat menjadi simbol nyata investasi jangka panjang negara dalam menciptakan generasi yang lebihberkualitas dan berdaya saing.Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari mengungkapkan bahwa pembangunan SekolahRakyat tahap kedua terus berjalan dengan progres yang menggembirakan meskipun dihadapkanpada sejumlah tantangan di lapangan, terutama terkait kesiapan lahan dan akses menuju lokasipembangunan, sementara peran Direktur Jenderal Prasarana Strategis Kementerian PekerjaanUmum Bisma Staniarto dinilai sangat krusial dalam menjaga ritme pembangunan agar tetapsesuai dengan target yang telah ditetapkan pemerintah. Ia menilai koordinasi teknis yang dilakukan secara konsisten menjadi faktor kunci dalam memastikan setiap hambatan dapatdiatasi secara terukur sehingga proyek tidak berjalan parsial, melainkan terintegrasi dari pusathingga daerah.Lebih lanjut, pembangunan Sekolah Rakyat tahap kedua tidak hanya berfokus pada penyelesaianfisik bangunan, tetapi juga memastikan kesiapan operasional agar sekolah dapat langsungdigunakan pada tahun ajaran baru 2026/2027, sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan olehmasyarakat. Berdasarkan data terbaru, dari total 104 lokasi pembangunan, sebanyak 101 lokasitelah memasuki tahap konstruksi dan seluruhnya ditargetkan rampung pada 20 Juni 2026, sebuahcapaian yang menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjadikan sektor pendidikan sebagaiprioritas utama pembangunan nasional.Dalam upaya memastikan target tersebut tercapai, Muhammad Qodari menegaskan bahwaKantor Staf Presiden bersama Ditjen Prasarana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum terusmelakukan langkah konkret melalui rapat koordinasi intensif yang melibatkan berbagai pihak, termasuk BUMN karya dan penyedia jasa konstruksi, sehingga setiap persoalan yang muncul, baik terkait teknis, logistik, maupun kesiapan lahan, dapat dipetakan secara komprehensif danditangani dengan solusi yang jelas dan terukur.Koordinasi tersebut kemudian diperluas dengan melibatkan Kementerian Sosial, KementerianDalam Negeri, Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan, serta Zeni TNI Angkatan Darat, yang dinilai mampu mempercepat penyelesaian berbagai hambatan strategis di lapangan, termasukpembangunan akses jalan dan penuntasan persoalan lahan di sejumlah wilayah, di mana sinergilintas sektor ini menjadi kunci dalam mempercepat realisasi program secara menyeluruh danmemastikan tidak ada kendala yang berlarut-larut.Hasil dari upaya percepatan tersebut mulai terlihat di sejumlah wilayah dengan progrespembangunan yang cukup signifikan, seperti di Kalimantan Selatan yang mencapai 30,85 persen, Sulawesi Selatan sebesar 30,22 persen, serta Jawa Barat sebesar 28,07 persen, meskipunpemerintah tetap memberikan perhatian khusus pada beberapa lokasi dengan progres yang masihrendah melalui intervensi yang lebih intensif agar target penyelesaian secara keseluruhan tidakterganggu.Program Sekolah Rakyat sendiri merupakan inisiatif pemerintah untuk memperluas aksespendidikan bagi masyarakat, khususnya di wilayah yang terdampak bencana maupun daerahdengan keterbatasan infrastruktur pendidikan, sehingga anak-anak dari keluarga prasejahteratetap dapat memperoleh pendidikan formal yang layak. Program ini dirancang sebagai investasijangka panjang dengan target penyelesaian yang terukur agar dapat segera dimanfaatkan, sekaligus menjadi bagian dari upaya negara dalam menjamin hak pendidikan bagi seluruh wargatanpa terkecuali.Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah juga mempercepat penambahanprogram Sekolah Rakyat yang ditargetkan mulai beroperasi pada April 2026, di...
- Advertisement -

Baca berita yang ini