JPMorgan Pandang Positif Ekonomi Indonesia Meski Kasus Covid-19 Melonjak

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Disaat nada pesimis dari ekonom lokal terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia, konsultan keuangan JPMorgan justru memandang positif prospek ekonomi Indonesia.

Meski negara ini masih berjuang dengan lonjakan infeksi covid-19 yang jumlah kasusnya angka melewati satu juta. Besarnya populasi muda di Indonesia menjadi salah satu alasan di balik optimisme tersebut.

”Secara demografis, Asia Tenggara sangat berbeda dari beberapa negara maju yang cenderung kita bandingkan dengan negara-negara ini,” kata kata Kepala Penelitian Ekuitas Asia ex-Jepang JPMorgan James Sullivan, seperti dikutip dari CNBC International, Sabtu, 6 Februari 2021.

Menurut data statistik  pada 2015 usia rata-rata penduduk Indonesia adalah 28,5 tahun. “Karena mereka jauh lebih muda. Itu adalah perbedaan yang sangat penting saat kami memikirkan cara kami memandangnya,” katanya.

Akibatnya, penguncian di negara-negara seperti itu termasuk di Indonesia mungkin tidak diperlukan dibandingkan dengan tempat-tempat dengan populasi yang jauh lebih tua yang berisiko lebih tinggi terkena covid-19.

Untuk menggambarkan maksudnya, Sullivan menggunakan contoh India, negara yang nomor dua setelah AS dalam hal jumlah infeksi covid secara global, menurut data yang dikumpulkan oleh Universitas Johns Hopkins.

Ketakutan seputar India tampaknya belum terealisasi, karena jumlah kasus covid-19 harian di negara itu telah turun secara signifikan. Analis juga mengatakan pemulihan ekonomi lebih kuat dari perkiraan. Meski demikian, menurut data Hopkins, Indonesia masih mencatat jumlah kasus covid-19 terbanyak di Asia Tenggara sejauh ini.

Selain populasi Indonesia yang relatif muda, Sullivan mengatakan mereka melihat upaya positif pemerintah untuk memacu pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Pemerintah mendorong dana investasi yang dikenal sebagai Lembaga Investasi Indonesia, dengan laporan menunjukkan Presiden Indonesia Joko Widodo sedang mencari pendanaan USD 100 miliar.

Sullivan menambahkan ada peningkatan yang signifikan di bidang manufaktur, terutama di sektor ekspor. Lebih lanjut, analis JPMorgan juga mengutip upaya pemerintah di bidang vaksin sebagai alasan lain di balik pandangan positifnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini