Jelang Ramadan Maret Mendatang, Disdag Jogja Pantau Ketat Harga Barang Pokok Ini

Baca Juga

Mata Indonesia, Yogyakarta – Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Jogja terus melakukan pemantauan terhadap pergerakan harga bahan pokok (bapok).

Hal itu menyusul dengan tren tahun-tahun sebelumnya, selalu terjadi kenaikan harga pada momentum hari besar agama.

Kepala Disdag Kota Jogja, Veronica Ambar Ismuwardani membenarkan pihaknya memantau pergerakan harga bapok bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Yogyakarta.

“Mendekati puasa kami pasti intervensi ke pasar melibatkan TPID dan satgas pangan,” sebutnya, Senin 27 Februari 2023.

Dalam pengawasan yang dilakukan itu, Ambar mulai mewaspadai harga bawang yang mulai merangkak naik meski pasokannya diperkirakan mencukupi kebutuhan warga Kota Jogja.

Bapok lain yang juga diawasi Ambar adalah minyak, khususnya kemasan Minyakkita yang baru diterimanya sebanyak 60 ton.

Dia berencana untuk mendistribusikan ke enam pasar di Kota Jogja antara lain di Pasar Beringharjo, Kranggan, Demangan, Prawirotaman, Sentul, dan Lempuyangan.

“Harapannya masyarakat akan lebih mudah mendapat Minyakkita sesuai HET. Segoro Amarto juga akan jadi acuan bagi pedagang untuk menjual barang terutama minyak goreng,” ujarnya.

Ambar pun mengakui bahwa jajarannya tak mampu kontrol harga bapok jenis sayur-mayur. Kota Jogja memiliki ketergantungan pada wilayah lain. Lantaran Kota Jogja bukan produsen makanan, sehingga kebutuhan bapok masih bergantung pada pasokan dari Sleman, Kulonprogo, dan Temanggung.

“Ketika bicara cabai, bergantung pada pertanian tanaman pangan. Cuaca juga ada pengaruh di sana. Maka jika hujan terus, ada risiko busuk. Kemungkinan kalau cuaca seperti ini, untuk naik masih bisa dimungkinkan,” jelasnya.

Oleh sebab itu, Ambar melakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten di sekitarnya dalam menjaga pasokan bahan pokok tetap stabil.

Disdag juga melakukan penandatanganan kerja sama dengan Kabupaten Sleman untuk kebutuhan sayur mayur yang tak dimiliki Kota Jogja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini