Enak Banget, Inggris Sudah Tak Lagi Wajibkan Masker

Baca Juga

MATA INDONESIA, MOSKOW Varian Omicron yang terus menyebar luas, tak lantas membuat Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson meningkatkan pembatasan. Sebaliknya, masker tidak lagi diwajibkan di tempat-tempat umum, begitupun dengan paspor yang akan dicabut untuk acara-acara besar.

PM Johnson mengatakan kepada anggota parlemen bahwa pembatasan sedang dilonggarkan karena ilmuwan pemerintah berpikir kemungkinan lonjakan infeksi yang dipicu oleh varian Omicron yang sangat menular sekarang telah memuncak secara nasional.

Sementara rumah sakit di Inggris utara masih ditekan oleh beban kasus yang tinggi dan infeksi masih meningkat di sekolah-sekolah. PM Johnson mengatakan penerimaan rumah sakit dan pasien di unit perawatan intensif di tempat lain di Inggris masih dalam level stabil.

Pemerintah Inggris juga tidak lagi menyarankan warganya untuk bekerja dari rumah dan pemakaian masker wajah yang sebelumnya diwajibkan akan dihapus di ruang kelas sekolah menengah.

Paspor wajib Covid-19 tidak akan diperlukan untuk masuk ke acara berskala besar mulai 27 Januari. Sementara masker wajah tidak lagi diwajibkan secara hukum di mana pun di Inggris mulai hari itu.

“Kami akan mempercayai penilaian rakyat Inggris dan tidak lagi mengkriminalisasi siapa pun yang memilih untuk tidak memakainya,” kata Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, melansir Japan Today.

Pembatasan diperkenalkan pada Desember tahun lalu untuk memperlambat penyebaran cepat varian Omicron – yang pertama kali diidentifikasi di negara Afrika Selatan dan mengulur waktu bagi penduduk untuk mendapatkan suntikan vaksin booster mereka.

PM Johnson mengatakan bahwa lebih dari 90 persen dari mereka yang berusia di atas 60 tahun di Inggris telah mendapatkan suntikan vaksin ketiga atau booster.

Kasus Covid-19 di Negeri Ratu Elizabeth mengalami penurunan di sebagian besar wilayah untuk yang pertama kalinya sejak Desember 2021. Pemerintah melaporkan 108.069 kasus baru pada Rabu (19/1).

Persyaratan bagi mereka yang terinfeksi Covid-19 untuk melakukan isolasi mandiri selama lima hari penuh tetap ada, tetapi Johnson mengatakan tindakan itu juga akan berakhir dalam beberapa pekan mendatang.

PM Johnson dan Menteri Kesehatan, Sajid Javid sama-sama menyarankan agar pemerintah merencanakan periode pascapandemi ketika dapat mengobati Covid-19 lebih seperti flu.

“Akan segera tiba saatnya kita dapat menghapus persyaratan hukum untuk mengisolasi diri sama sekali, sama seperti kita tidak menempatkan kewajiban hukum pada orang untuk mengisolasi jika mereka menderita flu,” sambung Johnson.

Meskipun demikian, Johnson mendesak warga Inggris untuk tetap berhati-hati di pekan-pekan terakhir musim dingin dan menekankan bahwa pandemi itu belum berakhir.

Kabar tersebut disambut baik oleh sejumlah kalangan, terutama yang mengandalkan pekerja yang kembali mengisi pusat kota, serta perhotelan dan sektor pariwisata. Tetapi beberapa mengatakan para pejabat perlu memberikan rincian lebih lanjut tentang rencana mereka untuk mengatasi Covid-19 dalam jangka panjang.

“Ada kebutuhan vital sekarang untuk konsistensi yang lebih besar dalam bagaimana kita hidup dengan virus dalam jangka panjang. Berayun bolak-balik antara pembatasan dan normalitas telah merusak,” kata Matthew Fell, kepala direktur kebijakan Konfederasi Industri Inggris.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Indonesia Tawarkan Upaya Konkret Penanganan Air Dalam WWF ke -10

Rangkaian pertemuan World Water Forum (WWF) ke-10 tahun 2024 di Nusa Dua, Bali menghasilkan diskusi yang konstruktif dalam rangka...
- Advertisement -

Baca berita yang ini