Ekonomi Rakyat dan Rupiah Dijaga dengan Penguatan Likuiditas dan Investasi

Baca Juga

Mata Indonesia, JAKARTA — Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) terus memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memastikan aktivitas ekonomi rakyat tetap tumbuh di tengah dinamika ekonomi global. Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan likuiditas, peningkatan daya tarik investasi, serta pengelolaan kebijakan yang terkoordinasi guna menjaga kepercayaan pasar dan memperkuat fondasi ekonomi nasional.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter berjalan sangat erat, khususnya dalam menghadapi tekanan eksternal yang memengaruhi pergerakan nilai tukar.

“Penguatan koordinasi fiskal-moneter itu terus kita lakukan dan saat ini memang difokuskan bagaimana fiskal dan moneter sekiranya saling mendukung, saling memperkuat dengan kewenangan masing-masing untuk memperkuat upaya-upaya bersama melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah,” ujar Perry.

Menurutnya, terdapat dua langkah utama yang saat ini dijalankan pemerintah dan Bank Indonesia. Pertama, meningkatkan daya tarik investasi dan imbal hasil instrumen keuangan domestik agar aliran modal asing tetap masuk ke Indonesia. Langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus memperkuat nilai tukar rupiah.

“Kami sepakat meningkatkan daya tarik imbal hasil guna meredam aliran modal keluar dan memperkuat rupiah,” kata Perry.

Langkah kedua dilakukan melalui pengelolaan likuiditas yang memadai di pasar uang dan sektor perbankan. Pemerintah tetap menempatkan dana kas negara di Bank Indonesia sehingga operasi moneter dan fiskal dapat berjalan selaras dalam menjaga stabilitas ekonomi.

“Dengan demikian operasi moneter tetap berjalan untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah sementara operasi fiskalnya juga mendukung,” jelas Perry.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini sangat berbeda dibandingkan krisis ekonomi 1997-1998. Menurutnya, berbagai indikator menunjukkan fundamental ekonomi nasional tetap kuat dan sehat.

“Kita tidak sedang menuju keadaan seperti 1997-98 lagi. Fiskal kita baik, ekonominya bagus, hanya ada sentimen negatif di sana-sini yang mengganggu sedikit terhadap nilai tukar,” ujar Purbaya.

Ia menjelaskan bahwa kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terjaga dengan baik, sementara aktivitas ekonomi di berbagai daerah terus menunjukkan perkembangan positif.

“APBN kita bagus, ekonominya tumbuh cukup bagus. Sampai sekarang kalau kita ke mana-mana semuanya economic activity meningkat,” katanya.

Purbaya menilai tantangan utama saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh persepsi pasar yang tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya. Karena itu, pemerintah bersama Bank Indonesia terus memperkuat komunikasi dan koordinasi kebijakan agar kepercayaan publik maupun investor tetap terjaga.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ekonomi Rakyat dan Rupiah: Kuat Lewat Kebijakan Stabilisasi yang Terukur

Oleh: Dhita Karuniawati )*Di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga komoditas, serta perubahan arah kebijakan moneter negara-negara maju, Indonesia menghadapi tantangan yang tidak ringan dalam menjaga stabilitasekonomi nasional. Namun, pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwafondasi ekonomi Indonesia relatif mampu bertahan dari berbagai tekanan eksternal. Salah satu faktor utama yang mendukung ketahanan tersebut adalah kebijakanstabilisasi ekonomi yang dijalankan secara terukur dan terkoordinasi.Stabilitas ekonomi bukan sekadar persoalan angka-angka makro seperti pertumbuhanekonomi, inflasi, atau nilai tukar rupiah. Di balik itu, terdapat kepentingan yang lebihbesar, yakni menjaga daya beli masyarakat, memastikan keberlangsungan usaha mikrodan kecil, serta menciptakan kepastian bagi dunia usaha. Oleh karena itu, setiapkebijakan ekonomi yang ditempuh pemerintah perlu memiliki orientasi yang jelasterhadap kesejahteraan rakyat.Nilai tukar rupiah sering kali menjadi indikator yang mendapat perhatian luas darimasyarakat. Ketika rupiah mengalami tekanan, dampaknya dapat dirasakan oleh berbagai lapisan ekonomi, mulai dari kenaikan harga bahan baku impor hinggameningkatnya biaya produksi. Sebaliknya, rupiah yang stabil memberikan ruang bagipelaku usaha untuk merencanakan kegiatan bisnis dengan lebih baik dan menjaga harga barang tetap terkendali.Dalam konteks inilah sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi sangat penting. Kebijakan fiskal yang adaptif mampu memberikan bantalan terhadap gejolakekonomi global, sementara kebijakan moneter menjaga stabilitas harga dan nilai tukar. Keduanya harus berjalan beriringan agar tujuan pembangunan ekonomi dapat tercapaisecara optimal.Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung mengatakan bahwa pemerintah telahmenyiapkan tiga strategi utama untuk menghadapi dinamika global. Strategi pertamaadalah mengarahkan belanja negara pada sektor yang lebih produktif guna mendorongpertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.Selain itu, pemerintah terus mengoptimalkan penerimaan negara melalui penguatanadministrasi perpajakan dan reformasi sistem perpajakan. Langkah ini dilakukan agar ruang fiskal tetap terjaga dan mampu mendukung berbagai program prioritas nasional. Di sisi pembiayaan, pemerintah juga melakukan diversifikasi sumber pendanaan untukmengurangi risiko dari gejolak pasar keuangan global.Menurut Juda Agung, efektivitas strategi tersebut tercermin dari berbagai indikatorekonomi yang tetap terjaga. Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada pada...
- Advertisement -

Baca berita yang ini