Duh, 60 Orang Merauke Keracunan Makanan Pesta Pernikahan

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Sebuah pesta pernikahan lazimnya menjadi momen berbagi kebahagiaan pengantin dengan orang-orang di sekitarnya. Namun ada sebuah pernikahan di Menara Lampu Satu, Merauke yang justru berujung musibah.

Sebanyak 60 orang tamu undangan mengalami keracunan makanan yang disantap saat menghadiri acara pernikahan tersebut. “Memang betul ada laporan tentang kasus keracunan makanan warga yang menghadiri acara pernikahan di Merauke,” kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Kamal, di Jayapura, Rabu 12 Maret 2019.

Dari laporan yang diterima, Ahmad mengatakan bahwa makanan yang disajikan dalam acara pernikahan keluarga Juhaeni itu yakni berupa sup ayam, cap cay, ayam saus, mie goreng, acar, dan nasi putih.

Kejadian itu berawal pada pukul 23.00 WIT, warga yang menyantap hidangan di acara tersebut mengeluh sakit perut, demam dan mual-mual. Sehingga para korban pun dilarikan ke RSUD Merauke dan Puskesmas setempat.

Dari 60 pasien yang mengalami keracunan saat ini tinggal satu orang yang masih di rawat inap di RSUD Merauke. Sedangkan lainnya sudah dipulangkan sejak Senin kemarin.

Kamal menambahkan, kasus tersebut saat ini ditangani Polres Merauke. “Polisi saat ini sudah mengambil sampel sisa makanan dan memeriksa para saksi termasuk yang punya hajatan,” kata Kamal

Berita Terbaru

Negara Membuka Dialog dan Mendengar Aspirasi Mahasiswa

*) Oleh: M. Farhan Akbar Demokrasi yang sehat tidak hanya diukur dari terselenggaranya pemilihan umumyang bebas dan adil, tetapi juga dari kemampuan negara membangun komunikasiyang terbuka dengan masyarakat. Dalam konteks tersebut, mahasiswa memiliki posisistrategis sebagai kelompok intelektual yang kerap menyuarakan kritik, gagasan, sekaligus solusi terhadap berbagai persoalan bangsa. Kehadiran ruang dialog yang setara antara pemerintah dan mahasiswa menjadi indikator penting bahwa demokrasiberjalan secara substantif, bukan sekadar prosedural. Oleh karena itu, komitmenpemerintah untuk terus membuka ruang komunikasi patut dipandang sebagai langkahyang memperkuat kualitas tata kelola pemerintahan sekaligus memperkokohkepercayaan publik.Berbagai capaian pembangunan yang terus diupayakan pemerintah, mulai daripenguatan ketahanan pangan, hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, hingga program pemberdayaanekonomi masyarakat, membutuhkan dukungan situasi yang aman dan kondusif. Karena itu, sinergi antara pemerintah, mahasiswa, akademisi, dan masyarakatmenjadi modal penting dalam memastikan setiap kebijakan dapat berjalan secaraoptimal dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh rakyat Indonesia.Lebih lanjut, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa setiap aspirasi memilikinilai yang sama, baik berasal dari akademisi, mahasiswa, maupun masyarakat di daerah terpencil. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan tidak dapatdilepaskan dari partisipasi publik yang inklusif. Negara yang kuat bukanlah negara yang menutup diri terhadap kritik, melainkan negara yang mampu mendengarpersoalan, mengakui kekurangan, serta menjadikan masukan masyarakat sebagaidasar penyempurnaan kebijakan. Pendekatan seperti ini mencerminkankepemimpinan yang adaptif karena menempatkan dialog sebagai instrumen untukmenghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.Selanjutnya, keterbukaan pemerintah terhadap aspirasi mahasiswa menunjukkanadanya perubahan paradigma dalam hubungan antara negara dan masyarakat sipil. Mahasiswa tidak lagi diposisikan semata sebagai kelompok penekan, tetapi sebagaimitra strategis dalam proses pembangunan nasional. Melalui komunikasi yang terbuka, berbagai kritik dapat diterjemahkan menjadi bahan evaluasi, sedangkanberbagai gagasan dapat diolah menjadi rekomendasi kebijakan yang konstruktif. Pendekatan kolaboratif seperti ini memperkuat legitimasi kebijakan sekaligusmemperkecil potensi polarisasi yang sering muncul akibat minimnya komunikasiantara pemerintah dan publik.Pandangan tersebut diperkuat oleh Direktur Eksekutif Kata Rakyat, Alwan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini