Dennis Wise Bicara Perkembangan Garuda Select

Baca Juga

MATA INDONESIA, LOUGHBOROUGH – Garuda Select angkatan tiga sudah dua pekan berada di Inggris. Direktur Teknik Garuda Select, Dennis Wise menilai, masih banyak kekurangan yang perlu perbaikan dan tak mungkin dalam waktu singkat.

Skuat Garuda Select tak bisa langsung latihan setelah tiba di Inggris. Edgard Amping dkk. harus menjalani karantina sekitar dua pekan. Baru pada 15 Desember, mereka menggelar latihan perdana.

Selama dua pekan, Wise memantau para pemain yang datang satu per satu. Layaknya pemain muda yang datang ke tempat baru, masih banyak pekerjaan besar yang harus dikejar. Menurut legenda Chelsea itu, semuanya hanya soal waktu.

Wise menilai, para pemain tetap antusias melahap semua materi latihan yang diberikan. Meski masih ada beberapa kesalahan kecil, ia menganggap itu adalah hal wajar.

“Anak-anak ini masih berusaha mengerti banyak hal. Ada hal-hal yang mereka belum terbiasa di sini seperti penempatan pemain di beberapa posisi. Itu adalah hal biasa dan butuh waktu mungkin sekitar empat sampai lima pekan pertama untuk memperbaiki hal-hal kecil,” kata Wise, di laman resmi Program Garuda Select.

“Para pemain ini harus paham bahwa detil-detil ini sangat penting dan secara perlahan mereka mengetahui di mana letak kesalahan. Ketika ada yang melakukan kesalahan, harus push-up. Dari aspek psikologis itu memicu mereka untuk lebih fokus dan tidak ingin melakukan kesalahan lainnya,” ujarnya.

“Banyak dari mereka masih belum mengerti bahwa posisi tubuh akan mempengaruhi gerakan selanjutnya dan mereka bisa berada dalam kesulitan jika salah melakukan antisipasi. Contohnya seperti Rendy dan Ridho, mereka harus paham bahwa kecepatan dalam mengambil keputusan itu sangat penting karena lawan punya strategi untuk menghentikan serangan mereka. Jadi memang harus kreatif,” ungkapnya.

Meski baru satu pekan menjalani latihan, Garuda Select mampu menahan imbang Port Vale U-18 dalam laga perdana, Selasa 22 Desember 2020 di Loughborough University Stadium.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini