Acungkan Jari Tengah ke Presiden Juventus, Conte Minta Maaf

Baca Juga

MATA INDONESIA, MILAN – Pelatih Inter Milan, Antonio Conte meminta maaf atas tindakannya yang mengacungkan jari tengah ke presiden Juventus, Andrea Agnelli. Conte sadar tindakannya tidak bisa dibenarkan.

Suasana memanas usai pertandingan leg kedua semifinal Piala Italia antara Juventus melawan Inter Milan. Conte tertangkap kamera mengacungkan jari tengah ke arah Agnelli yang duduk di tribun penonton saat babak pertama usai.

Kemudian, Agnelli membalas tindakan Conte dengan melontarkan umpatan kasar. Bahkan, kabarnya Conte dan Agnelli sempat adu mulut di lorong stadion menuju ruang ganti pemain.

“Saya di sini ingin meminta maaf karena saya bereaksi dengan salah usai dihina. Harusnya saya bisa bereaksi berbeda dan lebih positif,” ujar Conte, dikutip dari Football Italia, Sabtu 13 Februari 2021.

“Saya minta maaf dan saya akan belajar dari kesalahan ini di masa depan. Penghinaan dan provokasi tak bisa dijadikan alasan, karena seharusnya saya tidak bereaksi seperti itu,” katanya.

“Semua orang melihat apa yang tejadi di Juventus Stadium, itu penting bagi saya. Tapi, kami sebagai pelatih, pemain, dan presiden harusnya bisa menjadi contoh. Itu sebabnya saya tak perlu bereaksi atas hinaan dan provokasi dengan cara berbeda, mungkin dengan acungan jempol atau tepuk tangan,” ungkapnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini