3,33 Juta Ekor Hewan Ternak Telah Divaksinasi PMK

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Sebanyak 3.335.984 ekor hewan telah menjalani vaksinasi PMK hingga Jumat 30 September 2022 pukul 12.00 WIB. Hal itu diungkapkan satgas PMK.

Dari data tersebut, juga diketahui bahwa PMK telah menyerang hewan ternak di 301 kabupaten/kota dari 25 provinsi di Indonesia dengan mayoritas menyerang sapi.

Berdasarkan data Satgas PMK di Jakarta, Jumat, diketahui bahwa, hewan yang telah divaksinasi terdiri atas 3.081.680 ekor sapi, 64.791 ekor kerbau, 33.156 ekor domba, 84.445 ekor kambing, dan 71.912 ekor babi.

Hingga saat ini, terdapat 546.213 hewan ternak telah terjangkit penyakit itu, di mana 429.185 di antaranya dilaporkan telah sembuh, 95.407 belum sembuh dan 9.347 ekor mati.

Rincian dari yang sakit adalah 517.156 sapi, 22.707 kerbau, 1.909 domba, 4.353 kambing, dan 88 babi. Sementara hewan ternak yang telah dinyatakan sembuh sebanyak 405.534 sapi, 19.168 kerbau, 1.414 domba dan 2.989 kambing, serta 80 babi.

Rincian hewan yang belum sembuh yakni 90.560 ekor sapi, 3.222 ekor kerbau, 432 ekor domba, 1.188 ekor kambing, dan 5 babi.

Hewan ternak yang dinyatakan mati akibat PMK di seluruh Indonesia memiliki rincian 8.994 sapi, 215 kerbau, 41 domba, 94 kambing, dan 3 babi.

Sementara itu, beberapa provinsi masuk dalam zona merah, yakni ada lebih dari 50 persen kabupaten/kota di provinsi tersebut memiliki kasus PMK.

Provinsi dengan zona merah antara lain Riau, Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, dan Sulawesi Selatan.

Satgas menyampaikan, PMK muncul di Provinsi Jawa Timur yang dikonfirmasi pada 5 Mei 2022.

Koordinator Tim Pakar Satgas Penanganan PMK Prof Wiku Adisasmito mengingatkan perlunya pembatasan dan pengetatan lalu lintas antardaerah zona merah dan hijau.

Satgas PMK juga mendorong pemerintah daerah yang berstatus zona hijau untuk melakukan pengawasan yang ketat terhadap lalu lintas hewan ternak dan produk segar hewan sebagai salah satu langkah mencegah penyebaran PMK.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Minyakita dan Strategi Pemerintah Menjaga Keseimbangan Pasar

Oleh : Antonius UtomoMinyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar dan tingkat konsumsi minyak goreng yang tinggi, stabilitas harga dan ketersediaan produk inimenjadi perhatian utama pemerintah. Dalam konteks tersebut, program Minyakita hadir sebagaiinstrumen strategis untuk memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh minyak goreng dengan harga yang terjangkau sekaligus menjaga keberlangsungan industri sawit dan minyakgoreng nasional.Sejak diperkenalkan sebagai minyak goreng rakyat, Minyakita dirancang untuk menjadi solusiatas fluktuasi harga minyak goreng yang kerap terjadi akibat dinamika pasar global maupundomestik. Keberadaan Minyakita tidak hanya bertujuan menjaga daya beli masyarakat, tetapijuga menjadi bagian dari upaya pemerintah menciptakan keseimbangan antara kepentingankonsumen, produsen, distributor, dan pelaku usaha di seluruh rantai pasok. Dengan demikian, Minyakita menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasionalyang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.Kementerian Perdagangan bersama berbagai pemangku kepentingan juga terus memperkuatmekanisme distribusi agar Minyakita dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara lebihefektif. Dalam pelaksanaannya, pemerintah melibatkan berbagai pihak, termasuk BUMN pangan seperti Bulog dan ID Food, guna memperluas jaringan distribusi dan memperkuatpengawasan terhadap penyaluran minyak goreng rakyat. Langkah ini menjadi bagian daristrategi besar pemerintah untuk memastikan bahwa manfaat program Minyakita dapatdirasakan secara merata oleh masyarakat di berbagai daerah.Upaya tersebut menunjukkan bahwa pengendalian harga tidak semata-mata dilakukan melaluipenetapan Harga Eceran Tertinggi (HET), tetapi juga melalui pembenahan tata niaga dan rantaidistribusi. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perbedaan harga di tingkat konsumen sering kali dipengaruhi oleh hambatan distribusi, biaya logistik, dan keterbatasan pasokan di wilayah tertentu....
- Advertisement -

Baca berita yang ini