2019, BEI Temukan 41 Saham Gorengan Beredar

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA - Sepanjang 2019, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengidentifikasi sebanyak 41 saham gorengan yang beredar.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widito Widodo menjelaskan, Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) semua saham gorengan itu sangat kecil, yakni 8,3 persen dari transaksi harian yang mencapai Rp 9,1 triliun.

“Itu volumenya besar karena recehan nilainya. Tapi value traded-nya kecil, hanya 8,3 persen,” kata Laksono di Jakarta, Jumat 10 Januari 2020.

Lebih lanjut, ia menjelaskan indikator BEI menyebut 41 saham tersebut merupakan saham gorengan atau berkualitas rendah. Pertama terkait adanya kenaikan harga terhadap fundamental perusahaan yang dinilai tak wajar.

“Jadi informasi itu yang kami himpun, karena laporan keuangannya mudah didapat sebagai bursa. Yang kedua juga mendengar input dari market, ada perusahaan yang kita lihat kenaikannya tak wajar,” ujarnya.

Namun demikian, dia belum mau menyebutkan siapa saja nama-nama saham yang teridentifikasi gorengan tersebut, lantaran BEI baru memasuki tahap identifikasi.

Berita Terbaru

Akselerasi Pembangunan Papua untuk Keadilan yang Merata

Oleh: Andreas Wakerkwa)*Upaya akselerasi pembangunan di Papua terus menjadi prioritas strategispemerintah dalam rangka mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Melalui pelaksanaan Program Strategis Nasional (PSN), pembangunan di wilayah Papua tidak lagi dipandang semata sebagai proyek infrastruktur, melainkansebagai langkah komprehensif yang bertujuan menciptakan kesejahteraan yang merata, inklusif, dan berkelanjutan. Pendekatan ini menempatkan masyarakatsebagai pusat pembangunan, sehingga setiap kebijakan yang dijalankan diharapkanmampu menjawab kebutuhan riil masyarakat setempat.Ketua Lembaga Pengembangan Generasi Papua (Lempeng Papua), Pastor Catto Y. Mauri, S.Th., mengatakan bahwa PSN merupakan fondasi penting dalammendorong transformasi pembangunan di Papua. Ia memandang bahwapembangunan yang tengah berlangsung bukan sekadar pembangunan fisik sepertijalan, jembatan, atau fasilitas publik lainnya, melainkan bagian dari upaya besaruntuk membuka akses, meningkatkan kualitas hidup, serta memperkuat daya saingmasyarakat Papua di berbagai sektor.Menurutnya, pembangunan yang inklusif harus melibatkan partisipasi aktif seluruhelemen masyarakat. Oleh karena itu, dukungan kolektif menjadi kunci keberhasilanimplementasi PSN di Papua. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta masyarakat lokal diyakini mampu mempercepat tercapainya tujuanpembangunan yang berkeadilan. Dalam konteks ini, masyarakat tidak hanyamenjadi objek pembangunan, tetapi juga subjek yang memiliki peran strategis dalammenentukan arah dan keberhasilan program.Lebih lanjut,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini