5 Fakta Besar ‘Festival Film Cannes’ yang Genap Berusia 73 Tahun

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – 73 tahun lalu, tepatnya 20 September 1946, Festival Film Cannes pertama kali diselenggarakan. Tentunya, pada saat itu, suasana kota Cannes di Prancis belum semeriah sekarang, film-film yang diikutsertakan juga masih sedikit, baik jumlah maupun genre-nya.

Tapi, festival itu terus berkembang selama bertahun-tahun, menjadikannya satu ajang paling bergengsi di dunia. Normalnya, Festival Film Cannes selalu diselenggarakan pada bulan Mei setiap tahun, lalu akan dipilih penerima trofi berkelas Palme d’Or untuk film terbaik. Terakhir, tahun 2019 ini, penerima penghargaan itu adalah film dari Korea berjudul ‘Parasite’ besutan sutradara Bong Joon-ho.

Nah, ada sejumlah fakta menarik tentang Festival Film Cannes yang wajib kalian ketahui, seperti berikut ini:

1. Palme d’Or atau Palem Emas

Pada tahun 1954, manajemen festival memutuskan untuk memberikan sebuah penghargaan setiap tahunnya untuk para peserta. Akhirnya, pengrajin perhiasan bernama Lucienne Lazon dipercaya untuk mendesainnya. Kemudian, pada festival tahun 1955, piala ini pertama kali diserahkan secara resmi kepada Delbert Mann untuk film Marty sebagai yang terbaik.

2. Big Three

Festival Film Cannes merupakan salah satu dari ‘Big Three’ bersama Festival Film Venesia dan Festival Film Internasional Berlin. Ketiganya memiliki sejarah dan pengaruh yang kuat dalam industri perfilman, meski banyak orang sepakat, Festival Film Cannes tetaplah raja dari para pesaingnya tersebut.

3. Tahun 1939 dan Perang Dunia II

Sebenarnya, Festival Film Cannes akan diselenggarakan pada tahun 1939. Bahkan, poster festivalnya sudah dirancang dan disebar oleh sepupu Toulouse-Lautrec, bernama Jean-Gabriel Domergue. Sayangnya, tahun itu juga, Perang Dunia II pecah di Eropa, Prancis termasuk salah satu negara terdampak parah. Festival Film Cannes akhirnya ditunda, dan baru digelar pada 1946.

4. Nama Sebelum Cannes

Nama Cannes merujuk pada sebuah kota kecil di Prancis, tempat festival ini diselenggarakan sejak awal hingga saat ini. Sebelumnya hingga tahun 2002, festival ini bernama International Film Festival atau Festival International du Film. Jauh sebelum itu, Festival Film Cannes dinamakan Grand Prix du Festival International du Film.

5. Perubahan Ketua Juri

Sejak awal diselenggarakan hingga tahun 1959, ketua juri dalam Festival Film Cannes haruslah orang Prancis, sedangkan anggotanya bebas dari negara manapun. Sistem ini kemudian didobrak, dan terpilihlah Georges Simenon dari Belgia pada tahun 1960 sebagai ketua juri pertama yang berasal dari luar Prancis.

 

Berita Terbaru

Dimethyl Ether dan Transformasi Ketahanan Energi Indonesia

Oleh : Ricky Rinaldi *)Ketahanan energi menjadi salah satu isu strategis yang menentukan arahpembangunan nasional di tengah dinamika global yang terus berubah. Ketergantungan terhadap energi impor, fluktuasi harga komoditas internasional, serta meningkatnya kebutuhan energi domestik menuntut Indonesia untukmelakukan transformasi kebijakan secara menyeluruh. Dalam konteks tersebut, pengembangan Dimethyl Ether (DME) menjadi salah satu langkah penting dalammemperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantunganterhadap impor LPG.DME dipandang sebagai alternatif energi yang memiliki potensi besar untukmendukung kebutuhan rumah tangga dan industri. Pemanfaatan sumber dayadomestik untuk produksi DME membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuatkemandirian energi. Dengan cadangan batu bara yang melimpah serta potensihilirisasi energi yang besar, pengembangan DME menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam membangun sistem energi yang lebih berkelanjutan.Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa ketahanan energi harus dibangunmelalui pemanfaatan sumber daya nasional secara optimal. Indonesia tidak dapatterus bergantung pada impor energi yang rentan terhadap gejolak global. Oleh karena itu, transformasi sektor energi menjadi prioritas untuk memastikan kebutuhanmasyarakat dapat terpenuhi secara stabil dan berkelanjutan.Pengembangan DME juga menjadi bagian dari agenda hilirisasi industri nasional. Selama ini, sumber daya alam Indonesia banyak diekspor dalam bentuk bahanmentah tanpa memberikan nilai tambah maksimal di dalam negeri. Melalui hilirisasi, komoditas domestik dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi yang mendukungkebutuhan nasional sekaligus membuka peluang ekonomi baru.Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menekankan bahwatransformasi energi harus diarahkan pada penguatan kemandirian nasional. Pengembangan DME tidak hanya bertujuan mengurangi impor LPG, tetapi juga memperkuat industri dalam negeri dan menciptakan lapangan kerja baru. Denganpendekatan yang terintegrasi, sektor energi dapat menjadi motor pertumbuhanekonomi nasional.Salah satu keuntungan utama pengembangan DME adalah potensi penghematandevisa negara. Selama ini, impor LPG menjadi salah satu komponen besar dalampengeluaran energi nasional. Dengan memanfaatkan DME sebagai substitusi, ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi secara bertahap. Langkah inimemberikan ruang fiskal yang lebih besar bagi pemerintah untuk mendukung sektorstrategis lainnya.Selain aspek ekonomi, pengembangan DME juga memiliki dampak strategisterhadap stabilitas pasokan energi. Ketika dunia menghadapi ketidakpastiangeopolitik dan fluktuasi harga energi, negara yang memiliki sumber energi domestikyang kuat akan lebih siap menghadapi tekanan global. Dengan memperkuatproduksi energi dalam negeri,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini