3 Besar Mahakarya Terbaik Mochtar Lubis, Wajib Baca Nih!

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Indonesia pernah memiliki seorang jurnalis dan pengarang kelas wahid, dia adalah Mochtar Lubis dengan segudang prestasi dan karyanya yang fenomenal.

Lahir di Padang Sumatra Barat 7 Maret 1992 dan meninggal di Jakarta 2 Juli 2004, Mochtar Lubis adalah sosok inspirasi para penulis di Tanah Air. Karya-karyanya hingga kini masih diperbincangkan dan relevan tak dimakan zaman.

Bukan hanya di dalam negeri, nama Mochtar Lubis juga menggema di penjuru dunia lewat tulisan-tulisannya yang memukau dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Dari puluhan tulisannya, terutama novel, ada tiga besar yang selalu dianggap terbaik dan disebut-sebut sebagai masterpiece atau mahakarya, yakni berikut ini:

1. Jalan Tak Ada Ujung

Jalan Tak Ada Ujung

Diterbitkan tahun 1952, Mochtar mengajak pembacanya untuk masuk ke suasana perang di masa-masa revolusi dengan dua tokoh utama, yakni Guru Isa dan Hazil. Buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, oleh A.H John. Judulnya berganti menjadi A Road with No End yang terbit di London pada 1968.

2. Harimau! Harimau!

Harimau Harimau
Harimau Harimau

Buku ini sangat populer setelah terbit pada 1975. Boleh dibilang, inilah buku paling dikenal karya Mochtar Lubis. Berkisah tentang tujuh pendamar, buku ini ditulis Mochtar ketika ia mendekam di penjara di Madiun, setelah terinspirasi dari pertemuannya dengan seekor harimau di Sumatra.

Laris manis, buku ini juga mendapat berbagai penghargaan, terutama Hadiah Sastra BMKN 1952.

3. Senja di Jakarta

Senja di Jakarta

Mochtar menuangkan pemikirannya yang kritis lewat buku Senja di Jakarta yang rilis pada 1957 ini. Ia berkisah tentang dinamika perpolitikan di ibu kota pada era 1950-an, dengan dua tokoh utama Suryono dan ayahnya Raden Kaslan yang bergelimpangan harta karena hasil korupsi.

Buku ini diterjemahkan ke berbagai bahasa, seperti bahasa Inggris oleh Claire Holt dengan judul Twilight in Jakarta, menyusul bahasa Jepang, Korea, Italia, Spanyol, Malaysia, hingga Belanda.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini