Konsumsi Meningkat, Inflasi Merangkak Naik Jelang Nataru di Gunungkidul

Baca Juga

Mata Indonesia, Gunungkidul – Tingkat konsumsi masyarakat menjelang perayaan Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 perlu diperhatikan untuk mengendalikan inflasi dan menjaga daya beli. Kepala BPS Gunungkidul, Joko Prayitno, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyampaikan hasil survei terkait perkembangan inflasi dari Januari hingga Oktober 2024 kepada TPID Gunungkidul.

Survei ini juga mencakup antisipasi terhadap kenaikan harga komoditas terkait Natal dan Tahun Baru, seperti makanan, minuman, dan tembakau, yang sering mengalami lonjakan harga.

“Harapannya TPID dapat memantau harga-harga ini untuk mencegah gejolak, meskipun permintaan barang meningkat,” ujar Joko, Rabu 4 Desember 2024.

Selain itu, survei konsumsi selama Desember 2024 juga diperlukan untuk meramalkan tren belanja masyarakat.

Dampak libur Natal dan Tahun Baru juga berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan lokal dan luar daerah ke Gunungkidul. Namun, angka kunjungan pariwisata sangat dipengaruhi oleh cuaca. Jika hujan turun terus-menerus, kunjungan wisatawan dapat berkurang, yang akan berdampak pada kenaikan konsumsi bahan makanan.

Oleh musabab itu, Joko menghimbau masyarakat untuk berbelanja sesuai kebutuhan guna menghindari lonjakan permintaan yang dapat memengaruhi persediaan barang.

Terkait inflasi, pada November 2024, Gunungkidul mencatatkan inflasi tahunan sebesar 0,81 persen (year-on-year/yoy), dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 105,37. Inflasi bulan tersebut tercatat 0,29 persen (month-to-month/mtm) dan 0,47 persen (year-to-date/ytd).

Komoditas yang berkontribusi signifikan terhadap inflasi antara lain tomat, bawang merah, minyak goreng, buncis, daging ayam ras, emas perhiasan, jeruk, ikan bandeng, beras, terong, telur ayam ras, bawang putih, pengharum cucian, bedak, bayam, kacang panjang, kelapa, seragam sekolah anak, vitamin, dan tarif dokter spesialis.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini