Dikira Gerhana Cincin, Nyatanya Jakarta Dapat Gerhana Matahari Parsial

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Antusiasme masyarakat yang ingin menyaksikan gerhana mataharu di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, sangat tinggi. Pada asyik lihat Gerhana Matahari Parsial di Ismail Marzuki, ternyata banyak warga mengira itu Gerhana Cincin.

Sehari sebelumnya, fenomena gerhana cincin memang menjadi perbincangan hangat bagi masyarakat Indonesia, bagaimana tidak, fenomena ini hanya ada sekitar 1-2 tahun sekali dengan durasi yang singkat.

Pada saat Minews bertanya kepada warga setempat, rata-rata mereka menjawab gerhana cincin.

Seperti Bila misalnya, dia datang dari Jakarta Timur. Saat ditanya sedang menyaksikan apa ia menjawab, “Liat gerhana cincin.”

Hampir sama dengan Bila, Niar seorang ibu rumah tangga pun menjawab hal serupa, tapi bedanya ia melihat langsung bahwa gerhana tersebut berbentuk seperti bulan sabit.

Eko Wahyu Kepala Teknik dan Publikasi Planetarium mengatakan, “Selama ini masyarakat hanya tahu fenomena bulan sabit, tapi jarang yang tahu matahari sabit.”

Mungkin karena efek ramainya berita gerhana cincin, banyak warga mengira acara tersebut untuk melihat gerhana cincin, padahal gerhana yang sedang terjadi ialah gerhana matahari parsial.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG), gerhana cincin merupakan fenomena disaat matahari, bulan, dan bumi berada dalam garis sejajar. Disebut cincin karena bulan tepat berada di depan matahari sehingga pinggiran lingkaran matahari tampak bersinar seperti cincin.

Sedangkan gerhana matahari parsial merupakan gerhana matahari sebagian, yang bentuknya seperti bulan sabit. (Anita Rahim)

Berita Terbaru

Reformasi Menyala di Era Prabowo: Dari Disiplin Aparat ke Birokrasi Profesional

*) Oleh : Gavin AsaditReformasi sering terdengar seperti slogan, tetapi di era Presiden Prabowo Subianto, ia mulai diletakkan sebagai agenda kerja yang bisa diukur—terutama pada sektoryang paling menentukan kualitas negara: Polri, TNI, birokrasi, dan penegakan hukum. Komitmen untuk menjaga dan mempercepat reformasi bukan hanya soal merapikanprosedur, melainkan menata ulang watak tata kelola: dari budaya nyaman menjadibudaya akuntabel, dari kekuasaan yang sulit disentuh menjadi kekuasaan yang tunduk pada aturan.Komitmen tersebut selalu ditekankan Presiden Prabowo dalam berbagai agenda pemerintahan, termasuk saat mendorong reformasi menyeluruh di sejumlah lembaga strategis negara. Pemerintah memandang reformasi bukan sekadar...
- Advertisement -

Baca berita yang ini