Oleh : Rizy Aprilia )*
Pemulihan pascabencana di sejumlah wilayah Aceh menuai apresiasi luas dari masyarakat. Setelah bencana alam yang sempat melumpuhkan aktivitas warga, berbagai upaya rehabilitasi dan rekonstruksi dinilai berjalan cepat dan terkoordinasi. Perbaikan rumah rusak, fasilitas umum, akses jalan, serta pemulihan layanan dasar seperti listrik dan air bersih menjadi bukti nyata kehadiran negara dan solidaritas lintas pihak. Warga menilai langkah ini memberi rasa aman dan harapan untuk kembali menata kehidupan secara normal setelah masa sulit yang mereka alami.
Di sejumlah lokasi terdampak, warga menyebut proses pemulihan dilakukan dengan pendekatan humanis dan partisipatif. Pemerintah daerah, aparat keamanan, relawan, dan organisasi kemanusiaan bekerja berdampingan mendengarkan kebutuhan warga di lapangan. Bantuan tidak hanya bersifat darurat, tetapi juga diarahkan pada pemulihan jangka menengah, seperti dukungan ekonomi, perbaikan sarana pendidikan, dan layanan kesehatan. Kondisi ini membuat masyarakat merasa dilibatkan dan dihargai, sehingga kepercayaan publik terhadap pemerintah semakin menguat.
Wakil Ketua MPR, Eddy Soeparno mengapresiasi kecepatan distribusi bantuan logistik dan transparansi penyalurannya. Kebutuhan pokok seperti pangan, obat-obatan, dan perlengkapan rumah tangga dapat diterima tepat waktu. Selain itu, kehadiran petugas di posko-posko pengungsian dinilai responsif dalam menangani keluhan dan kebutuhan khusus kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas. Situasi ini menciptakan suasana kebersamaan dan gotong royong yang kuat di tengah proses pemulihan.
Eddy juga menekankan bahwa sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI–Polri, relawan, serta unsur masyarakat sipil menjadi kunci utama dalam memastikan penanganan bencana berjalan efektif dan berkelanjutan. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor tersebut tidak hanya mempercepat pemulihan pascabencana, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik terhadap negara dalam melindungi warganya. Ia berharap pola koordinasi dan tata kelola penanganan yang sudah berjalan baik ini dapat dijadikan model dalam menghadapi situasi darurat serupa di masa mendatang, sehingga respons negara semakin cepat, tepat, dan humanis.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan menilai masyarakat Aceh menunjukkan sikap tegas dalam menjaga perdamaian dan stabilitas daerah. Warga secara terbuka menolak upaya normalisasi simbol-simbol yang dinilai berpotensi memicu ketegangan, termasuk pengibaran bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Penolakan ini bukan tanpa alasan, melainkan didasari kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga suasana kondusif, terutama di tengah fokus bersama untuk bangkit dari bencana dan membangun kembali kehidupan sosial ekonomi.
Bagi sebagian besar warga, perdamaian yang telah terjaga selama ini merupakan modal utama pembangunan Aceh. Trauma konflik masa lalu masih membekas, sehingga masyarakat tidak ingin kembali terjebak dalam simbolisme yang dapat memecah belah. Warga menilai bahwa pemulihan pascabencana seharusnya menjadi momentum memperkuat persatuan, bukan membuka ruang bagi perdebatan yang berpotensi mengganggu ketertiban umum dan mengalihkan perhatian dari kebutuhan mendesak masyarakat.
Mantan Sekjen Forum LSM Aceh, Dr. Wiratmadinata mengajak seluruh elemen untuk menahan diri dan menghormati kesepakatan damai yang telah membawa Aceh ke arah yang lebih stabil. Menurutnya, identitas Aceh dapat diekspresikan melalui budaya, adat, dan kontribusi positif bagi pembangunan, bukan melalui simbol-simbol yang sarat muatan politik dan sejarah konflik. Ajakan ini mendapat dukungan luas dari warga yang menginginkan Aceh tetap aman dan maju.
Aparat dan pemerintah daerah perlu terus menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan ketertiban umum. Pendekatan persuasif dan dialogis dinilai lebih efektif dibandingkan tindakan represif. Dengan komunikasi yang terbuka, potensi gesekan dapat dicegah sejak dini. Warga berharap upaya ini terus dilakukan agar fokus pemulihan pascabencana tidak terganggu oleh isu-isu yang dapat memecah konsentrasi dan solidaritas sosial.
Selain itu, penguatan peran tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pemuda setempat dipandang penting sebagai jembatan komunikasi antara warga dan aparat di lapangan. Keterlibatan mereka dapat membantu meredam kesalahpahaman, menyampaikan aspirasi secara konstruktif, serta menjaga suasana kondusif di lingkungan terdampak. Dengan dukungan elemen lokal yang memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat, proses pemulihan diharapkan berjalan lebih tenang, partisipatif, dan berorientasi pada kepentingan bersama.
Secara umum, masyarakat Aceh menunjukkan kedewasaan dalam menyikapi situasi pascabencana. Apresiasi terhadap kinerja pemulihan berjalan seiring dengan komitmen menjaga perdamaian. Penolakan terhadap normalisasi bendera GAM dipandang sebagai sikap menjaga stabilitas dan masa depan daerah. Dengan semangat kebersamaan, warga berharap Aceh dapat bangkit lebih kuat, aman, dan sejahtera, serta menjadikan pengalaman bencana sebagai pelajaran untuk memperkuat persatuan dan ketahanan sosial. Sikap tersebut mencerminkan kesadaran kolektif bahwa persatuan dan stabilitas merupakan modal utama dalam mempercepat pemulihan serta mewujudkan pembangunan Aceh yang berkelanjutan di masa mendatang.
)* Penulis adalah kontributor Ruang Baca Nusantara, tinggal di Bireuen
