Sandera Jila Masih Belum Dilepas, Jangan Harap Keluarga Kodap III Ndugama Selamat di Tanah Amungme

Baca Juga

Oleh: Sem Bukaleng, S.I.Kom
Ketua Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (LEMASA)

Hampir satu bulan berlalu, tetapi nasib sembilan perempuan asli Suku Amungme menjadi korban penyanderaan kelompok TPNPB-OPM Kodap III Ndugama di Jila belum juga mendapatkan kepastian. Bagi kami masyarakat adat Amungme, ini bukan lagi sekadar persoalan keamanan. Ini adalah persoalan kemanusiaan yang merobek hati dan mencoreng martabat masyarakat Papua.

Sampai kapan perempuan harus menjadi korban? Sampai kapan masyarakat sipil harus hidup dalam ketakutan karena tindakan kelompok bersenjata yang mengatasnamakan perjuangan?

Saya menilai sikap Kodap III Ndugama yang belum memberikan kepastian mengenai para korban menunjukkan bahwa mereka menganggap remeh suara masyarakat. Hampir satu bulan adalah waktu yang sangat panjang bagi keluarga yang setiap hari menunggu kepulangan orang yang kami cintai.

Dengan kata lain, Kodap III Ndugama membiarkan terjadinya pertumpahan darah di antara masyarakat Papua dan mereka juga mempersilahkan kami untuk melawan kekejaman mereka. Mereka sedang menguji kesabaran kami. Mereka sedang membuka luka baru di tengah masyarakat yang sudah terlalu lama hidup dalam bayang-bayang konflik.

Oleh karena itu, kami menyatakan dengan tegas: tidak akan memberi ampun siapapun yang berafiliasi dengan Kodap III Ndugama apalagi dengan Egianus Kogoya. Termasuk keluarga dan kerabat Egianus dan pasukannya yang berada di Timika, tidak segan-segan kami melakukan tindakan serupa dengan kekejaman kalian.

Untuk diketahui, kami telah mengetahui keberadaan keluarga terdekat, dan tersayang kalian yang menetap dan hidup di tanah Timika, sehingga dengan mudah dapat segera kami eksekusi. Dalam waktu dekat, tentu kalian akan menerima konsekuensi dari kekejaman kalian selama ini.

Tindakan Egianus Kogoya dan kelompoknya sangat merugikan masyarakat sipil. Jika mereka benar-benar mengklaim memperjuangkan rakyat Papua, maka rakyat Papua harus menjadi pihak pertama yang mereka lindungi.

Ketegasan masyarakat Amungme bukan berarti kami menginginkan perang antarsesama orang Papua. Justru sebaliknya. Kami tidak ingin tanah ini kembali menjadi tempat pertumpahan darah. Kami tidak ingin anak-anak Papua tumbuh dengan menyaksikan kekerasan sebagai sesuatu yang biasa.

Tetapi perdamaian tidak boleh dimaknai sebagai kesempatan bagi kelompok bersenjata untuk bertindak semaunya.

Selain itu, , kami meminta negara bertindak tegas terhadap pelaku yang terbukti melakukan penyanderaan dan kekerasan. Tidak boleh ada ruang bagi kelompok bersenjata yang memecah belah sesame rakyat Papua. Setiap tindakan kriminal harus dipertanggungjawabkan melalui hukum.

Tanah Amungme bukan tanah untuk kekerasan. Jila bukan panggung untuk mempertontonkan kekejaman terhadap perempuan. Dan masyarakat Papua tidak boleh terus dipaksa menjadi korban dari konflik yang tidak pernah mereka pilih.

Karena itu, pesan kami sangat jelas kepada Egianus Kogoya dengan pasukannya: bebaskan para sandera sekarang! Hentikan kekerasan! Jangan dorong masyarakat Amungme bertindak lebih jauh yang membuat kalian menyesal!.

Sembilan perempuan itu harus kembali kepada keluarganya. Mereka berhak hidup aman, dan masyarakat Papua berhak mendapatkan masa depan tanpa penyanderaan, ancaman, dan pertumpahan darah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Pastikan Stabilitas Keuangan, Pemerintah Siapkan Pembayaran Utang Kopdes Merah Putih

MataIndonesia, JAKARTA – Pemerintah memastikan pembiayaan program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih tetap berjalan aman dan tidak mengganggu stabilitas...
- Advertisement -

Baca berita yang ini