Presiden Prabowo Tegaskan Kesejahteraan Buruh Jadi Prioritas Nasional sebagai Respon Aspirasi 17+8

Baca Juga

Oleh : Ricky Rinaldi

Pemerintah menegaskan bahwa kesejahteraan buruh merupakan prioritas utama dalam agenda nasional. Melalui berbagai kebijakan dan inisiatif strategis, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa negara hadir untuk melindungi dan meningkatkan kualitas hidup pekerja Indonesia, terutama mereka yang berpenghasilan rendah. Kehadiran Presiden dalam momentum Hari Buruh Internasional di Monas, Jakarta, pada 1 Mei 2025 menjadi bukti nyata komitmen tersebut. Dalam acara yang dihadiri lebih dari 200.000 buruh itu, ia menekankan bahwa pekerja adalah tulang punggung ekonomi bangsa, sehingga sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk memberi perhatian serius terhadap kesejahteraan mereka.

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa negara wajib hadir secara nyata untuk melindungi buruh dan menjamin masa depan lebih baik bagi pekerja Indonesia. Menurutnya, peningkatan pendapatan bagi buruh bukan hanya sekadar angka upah, tetapi juga menyangkut akses terhadap layanan sosial seperti kesehatan, pendidikan, dan bantuan langsung tunai. Ia mengingatkan kembali amanat konstitusi bahwa kekayaan alam Indonesia harus dikelola sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, dan buruh sebagai salah satu elemen utama pembangunan berhak memperoleh manfaat langsung dari pengelolaan tersebut.

Konsistensi pemerintah dalam memperjuangkan nasib buruh tercermin pada keputusan menaikkan rata-rata Upah Minimum Nasional (UMN) sebesar 6,5 persen untuk tahun 2025. Kebijakan ini diumumkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada akhir tahun 2024 setelah melalui dialog intensif dengan serikat pekerja. Pemerintah meyakini bahwa kenaikan tersebut akan meningkatkan daya beli buruh sekaligus menjaga daya saing industri nasional. Di sisi lain, pemerintah juga mengalokasikan anggaran lebih dari Rp 500 triliun untuk memperkuat jaring pengaman sosial, seperti pembebasan iuran BPJS Kesehatan, pendidikan gratis bagi anak buruh, subsidi listrik, hingga bantuan langsung tunai bagi keluarga berpenghasilan rendah.

Sebagai langkah strategis, Presiden Prabowo Subianto menyetujui pembentukan Dewan Kesejahteraan Buruh Nasional (DKBN), sebuah lembaga setingkat kementerian yang bertugas menyalurkan aspirasi pekerja dan memberikan nasihat kebijakan kepada pemerintah. Selain itu, dibentuk pula Satuan Tugas Pemutusan Hubungan Kerja (Satgas PHK) untuk merespons kebutuhan mendesak akibat maraknya kasus PHK sepihak. Inisiatif ini menjawab aspirasi serikat buruh yang selama bertahun-tahun meminta adanya mekanisme cepat dan adil dalam menangani konflik ketenagakerjaan.

Dialog antara pemerintah dengan serikat buruh juga diperkuat melalui pertemuan terbuka yang digelar pada 1 September 2025. Dalam forum tersebut, Presiden Prabowo Subianto duduk bersama pimpinan serikat buruh, Ketua DPR, serta tokoh lintas masyarakat untuk membahas tiga RUU prioritas: RUU Ketenagakerjaan, RUU Perampasan Aset, dan desain ulang sistem pemilu. Pemerintah menegaskan kesiapannya untuk menindaklanjuti sejumlah tuntutan buruh dan mendorong DPR agar segera memprosesnya sebagai prioritas legislasi nasional.

Tak hanya berhenti pada ranah kebijakan, pemerintah juga menginisiasi kampanye moral dengan mengajak serikat buruh mengusulkan tokoh pekerja seperti Marsinah menjadi calon pahlawan nasional. Presiden Prabowo Subianto menilai pengakuan terhadap sejarah perjuangan buruh penting untuk memperkuat narasi bahwa pekerja adalah bagian sah dari identitas nasional.

Komitmen pemerintah ini mendapat apresiasi dari berbagai kalangan buruh. Ketua Partai Buruh sekaligus Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, Said Iqbal, menyatakan bahwa langkah Presiden patut diapresiasi sebagai bentuk keterbukaan pemerintah. Sementara itu, Ketua Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia, Ely Rosita Silaban, menekankan perlunya mekanisme pengawalan agar kebijakan yang telah diumumkan dapat benar-benar terealisasi. Keduanya sepakat bahwa kehadiran Presiden dalam peringatan Hari Buruh menjadi simbol kuat hubungan baru yang lebih harmonis antara pemerintah dan buruh.

Bagi pemerintah, kesejahteraan buruh bukan hanya isu jangka pendek, melainkan agenda strategis nasional. Peningkatan kesejahteraan pekerja dipandang sebagai kunci untuk memperkuat daya beli masyarakat, mendorong produktivitas, sekaligus menjaga stabilitas sosial. Dengan pendekatan ini, Presiden Prabowo Subiantomenegaskan bahwa buruh tidak boleh lagi dipandang semata sebagai faktor produksi, melainkan sebagai manusia yang memiliki hak atas kehidupan yang layak dan bermartabat.

Pemerintah juga menyadari adanya tantangan, mulai dari resistensi struktural di sektor ketenagakerjaan hingga disparitas produktivitas antarwilayah. Namun demikian, dengan kolaborasi lintas elemen — antara serikat pekerja, DPR, pengusaha, dan masyarakat sipil — agenda ini diyakini akan berjalan konsisten. Kebijakan yang tengah ditempuh merupakan bukti nyata bahwa pemerintah tidak sekadar melontarkan retorika, tetapi benar-benar menjalankan amanat konstitusi untuk menyejahterakan rakyat pekerja.

Dengan pembentukan lembaga khusus untuk kesejahteraan buruh, kenaikan upah minimum, penguatan dialog legislatif, serta penyediaan program sosial yang inklusif, pemerintah optimistis mampu menciptakan ekosistem kerja yang lebih adil dan produktif. Presiden Prabowo Subianto menutup dengan penegasan bahwa kesejahteraan buruh akan terus dijadikan prioritas nasional demi mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera, adil, dan bermartabat.

*)Pengamat Isu Strategis

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini