Oleh: Nur Utunissa*
Penguatan tata kelola komoditas nasional kembali menjadi fokus penting dalam arahpembangunan ekonomi Indonesia. Di tengah dinamika perdagangan global yang semakinkompetitif, pemerintah mulai mendorong sistem pengelolaan sumber daya alam yang lebihterintegrasi, transparan, dan berorientasi pada kepentingan nasional.
Salah satu langkah strategis yang kini menjadi perhatian adalah penguatan peran Danantaradalam pengelolaan ekspor komoditas strategis Indonesia. Kebijakan ini dipandang sebagai upayamemastikan kekayaan sumber daya alam benar-benar memberikan manfaat optimal bagipembangunan nasional, penguatan devisa, serta ketahanan ekonomi jangka panjang.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam tata niagakomoditas. Sebagai salah satu eksportir utama batu bara, minyak sawit, dan mineral strategislainnya, Indonesia memiliki posisi penting dalam rantai pasok global.
Namun, besarnya potensi tersebut dinilai belum sepenuhnya memberikan dampak maksimalterhadap penerimaan negara maupun penguatan ekonomi domestik. Pemerintah melihat masihadanya celah dalam pengawasan transaksi perdagangan, termasuk persoalan ketidaksesuaianpencatatan nilai ekspor, lemahnya kontrol devisa hasil ekspor, hingga praktik transfer pricing yang merugikan kepentingan nasional.
Dalam kerangka memperkuat pengawasan tersebut, Badan Pengelola Investasi Danantaramembentuk PT Danantara Sumberdaya Indonesia guna memperbaiki tata kelola eksporkomoditas strategis nasional sekaligus mencegah praktik perdagangan ilegal. Kehadiranperusahaan baru ini diproyeksikan menjadi instrumen strategis dalam memperkuat kontrolnegara terhadap arus perdagangan sumber daya alam yang selama ini menjadi salah satupenopang utama perekonomian nasional.
Pemerintah juga menunjuk mantan direktur PT Vale Indonesia Tbk (INCO), Luke Thomas Mahony, sebagai Direktur Utama PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Penunjukan figur yang memiliki pengalaman panjang di sektor industri sumber daya alam tersebut menunjukkankeseriusan pemerintah dalam membangun tata kelola komoditas yang profesional dan mampumenjawab tantangan perdagangan global yang semakin kompleks. Struktur lengkapkepengurusan perusahaan baru ini akan diumumkan setelah penguatan tim internal selesaidilakukan.
Langkah pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia menjadi bagian dari desain besarpemerintah dalam membangun sistem perdagangan nasional yang lebih tertata dan terintegrasi. Jika sebelumnya negara cenderung hanya menjadi regulator, kini pemerintah mulai mengambilperan lebih aktif dalam memastikan alur perdagangan strategis berjalan sesuai kepentingannasional. Pendekatan tersebut dianggap penting mengingat komoditas strategis tidak hanyaberkaitan dengan perdagangan biasa, tetapi juga menyangkut stabilitas ekonomi, ketahananenergi, kekuatan industri nasional, dan posisi tawar Indonesia di tingkat global.
CEO Danantara, Rosan Roeslani menyatakan pembentukan badan usaha ini sejalan denganarahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperketat pengawasan kegiatan ekspor sumber dayaalam. Pengawasan intensif ini ditujukan untuk menghentikan kerugian negara akibat praktikkurang bayar, pemindahan harga, hingga pelarian devisa ke luar negeri.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, langkah penguatan tata kelola ini juga dinilai mampu memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Pemerintah mendorong agar devisahasil ekspor dapat lebih banyak tersimpan di dalam negeri sehingga memberi dampak langsungterhadap stabilitas nilai tukar dan likuiditas nasional. Dengan pengawasan yang lebih terstruktur, pemerintah berharap manfaat ekspor dapat lebih terasa bagi pembangunan nasional dan penguatan kapasitas fiskal negara.
Managing Director Stakeholders Management & Communications Danantara Indonesia, Rohan Hafas mengatakan bahwa posisi PT Danantara Sumberdaya Indonesia berada langsung di bawahkendali induk Danantara yang memiliki kapasitas modal besar. Posisi strategis tersebutmemperlihatkan bahwa perusahaan ini tidak hanya dibentuk sebagai entitas administratif semata, melainkan sebagai bagian penting dalam konsolidasi kekuatan ekonomi nasional yang lebihbesar.
Pembentukan mekanisme perdagangan yang lebih terpusat melalui Danantara juga menunjukkanupaya negara dalam membangun posisi tawar yang lebih kuat di pasar internasional. Indonesia selama ini dikenal sebagai produsen utama berbagai komoditas penting dunia.
Komoditas strategis yang masuk dalam ruang lingkup pengelolaan korporasi ini meliputi minyakkelapa sawit mentah, batu bara, dan ferro alloy. Ketiga komoditas tersebut memiliki kontribusibesar terhadap penerimaan devisa nasional sekaligus memainkan peran penting dalam rantaipasok industri global. Dengan masuknya komoditas utama tersebut ke dalam sistem pengawasanyang lebih terintegrasi, pemerintah berharap tata niaga ekspor dapat berjalan lebih tertib, efisien, dan menguntungkan kepentingan nasional dalam jangka panjang.
Langkah tersebut sekaligus mencerminkan semangat hilirisasi yang terus diperkuat pemerintahdalam beberapa tahun terakhir. Hilirisasi bukan hanya soal meningkatkan nilai tambah industri, tetapi juga menyangkut bagaimana negara mampu mengendalikan rantai distribusi dan perdagangan sumber daya alam secara lebih mandiri. Danantara diposisikan sebagai salah satuinstrumen penting dalam membangun ekosistem ekonomi nasional yang tidak lagi bergantungpada pola lama yang cenderung menempatkan Indonesia hanya sebagai pemasok bahan mentahdunia.
Di sisi lain, kebijakan ini juga membawa pesan penting mengenai pentingnya transparansi dalampengelolaan kekayaan alam nasional. Dengan penguatan sistem pengawasan melalui Danantara, pemerintah ingin memastikan bahwa setiap transaksi perdagangan strategis dapat tercatat secaralebih akurat dan memberikan kontribusi nyata terhadap kepentingan nasional.
*) Penulis adalah Penulis adalah Pegiat Literasi pada Narasi Nusa Institute

