Penguatan Ketahanan Pangan Jadi Fokus Kerja Bersama

Baca Juga

Oleh: Naufal Prasetya

Penguatan ketahanan pangan menjadi salah satu fokus utama pemerintah pusat dan daerah dalam menghadapi tantangan global yang terus berkembang. Stabilitas pasokan pangan, kelancaran distribusi, hingga kemampuan menjaga kualitas bahan pangan dinilai sangat penting untuk menjaga daya tahan ekonomi nasional. Karena itu, kerja sama lintas sektor antara pemerintah, BUMD, dan pelaku usaha dianggap menjadi langkah strategis dalam membangun sistem pangan yang kuat dan berkelanjutan. Salah satu upaya yang kini didorong pemerintah ialah penguatan sistem rantai dingin atau cold chain guna memastikan distribusi pangan berjalan lebih efektif dan efisien.

Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri Kementerian Dalam Negeri menilai BUMD memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan nasional, terutama melalui penguatan interkonektivitas rantai dingin. Sistem tersebut dinilai mampu menjaga kualitas pangan, mengurangi kerusakan hasil pertanian, dan memastikan pasokan pangan tetap tersedia di berbagai daerah. Penguatan cold chain juga dianggap penting untuk menjaga stabilitas harga pangan yang selama ini kerap dipengaruhi masalah distribusi dan logistik.

Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pembangunan, Keuangan Daerah dan Desa Rochayati Basra menyampaikan bahwa penyelenggaraan pangan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Rochayati Basra menjelaskan bahwa pemerintah daerah memegang peran strategis dalam menjamin kelancaran distribusi, stabilisasi pasokan, serta pengelolaan logistik yang efektif. Karena itu, penguatan BUMD pangan menjadi langkah konkret untuk membangun sistem cold chain yang terintegrasi di berbagai wilayah.

Selain itu, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah juga menegaskan bahwa urusan pangan termasuk kewenangan daerah. Dengan aturan tersebut, pemerintah daerah bersama perangkat daerah dan BUMD memiliki tanggung jawab besar dalam membangun sistem distribusi pangan yang berkelanjutan. Daerah diharapkan mampu mengambil langkah strategis sesuai kebutuhan wilayah masing-masing agar ketahanan pangan tetap terjaga.

Perwakilan Organisasi Rantai Pendingin Indonesia Hasanuddin Yasni menilai swasembada pangan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga kemampuan negara dalam mengelola, mengolah, dan mendistribusikan produk pangan dengan dukungan teknologi dan kebijakan yang memadai. Hasanuddin Yasni menekankan pentingnya pembangunan ekosistem rantai dingin karena masih banyak hasil pertanian dan perikanan yang mengalami kerusakan akibat lemahnya sistem penyimpanan dan distribusi.

Menurut Hasanuddin Yasni, penguatan cold chain membutuhkan kesiapan sarana dan prasarana, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta model bisnis kolaboratif. Kerja sama antara pemerintah daerah, BUMD, dan pelaku usaha dianggap menjadi solusi penting untuk mengatasi keterbatasan investasi dan teknologi di daerah. Kolaborasi tersebut juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor pangan yang lebih modern dan terintegrasi.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak dapat dibangun oleh satu pihak saja. Pemerintah membutuhkan dukungan dunia usaha dan masyarakat agar sistem pangan nasional menjadi lebih kuat. Sebaliknya, pelaku usaha juga membutuhkan dukungan regulasi, infrastruktur, dan kebijakan yang mendukung pengembangan sektor pangan nasional. Karena itu, sinergi antarpihak dinilai menjadi kunci dalam menjaga ketahanan pangan jangka panjang.

Di sisi lain, Wakil Wali Kota Cilegon Fajar Hadi Prabowo menegaskan bahwa Pemerintah Kota Cilegon mendukung penuh kebijakan pemerintah pusat dalam mewujudkan swasembada pangan nasional. Menurut Fajar Hadi Prabowo, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan pangan yang berkelanjutan. Dukungan tersebut diwujudkan melalui berbagai langkah strategis, termasuk penguatan sektor pertanian di tengah status Cilegon sebagai kota industri.

Fajar Hadi Prabowo juga menyampaikan bahwa Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menekankan keberhasilan percepatan swasembada pangan nasional tahun 2025 yang mampu dicapai lebih cepat dari target awal. Keberhasilan tersebut dinilai sebagai hasil kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, petani, dan seluruh pemangku kepentingan di sektor pertanian.

Selama setahun terakhir, pemerintah juga dinilai berhasil menjaga stabilitas pangan nasional melalui berbagai kebijakan strategis. Beberapa capaian yang mendapat perhatian antara lain peningkatan produksi beras nasional, ketersediaan pupuk subsidi, modernisasi pertanian, hingga penguatan distribusi pangan. Di tengah ancaman krisis pangan global dan ketidakpastian ekonomi dunia, capaian tersebut menjadi bukti bahwa sektor pangan Indonesia mulai menunjukkan daya tahan yang lebih kuat.

Pemerintah pusat juga terus memperkuat sektor pertanian melalui optimalisasi lahan, pembangunan irigasi, dan pemanfaatan teknologi pertanian modern. Langkah tersebut diperkuat oleh dukungan pemerintah daerah yang terus berupaya meningkatkan produktivitas pertanian di wilayah masing-masing. Kolaborasi pusat dan daerah dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan sektor pangan nasional.

Kerja sama yang semakin kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMD, dan pelaku usaha menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Penguatan sistem rantai dingin, peningkatan produktivitas pertanian, serta pembangunan sistem distribusi yang lebih modern menunjukkan bahwa Indonesia terus bergerak menuju tata kelola pangan yang lebih baik. Dengan dukungan seluruh pihak, ketahanan pangan diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas ekonomi, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

*) Analis Kebijakan Pangan Nasional

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ketahanan Pangan Dapat Dicapai melaluiSinergi yang Berkelanjutan

Oleh: Ardyan MaheswaraKetahanan pangan menjadi salah satu agenda prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subiantodalam upaya memperkuat kemandirian bangsa sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakatdesa. Pemerintah memandang sektor pangan bukan hanya berkaitan dengan ketersediaan bahanpokok, tetapi juga menyangkut nasib jutaan petani, nelayan, dan peternak yang selama inimenjadi penopang ekonomi daerah. Karena itu, penguatan sektor pertanian, perikanan, danpeternakan terus didorong melalui kolaborasi lintas sektor, pemanfaatan teknologi, sertapembenahan distribusi pangan nasional. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa Presiden Prabowo sejaklama memberi perhatian besar terhadap agenda swasembada pangan. Menurutnya, swasembadabukan hanya soal memastikan stok pangan aman, tetapi juga menjadi jalan untuk meningkatkanpendapatan masyarakat desa yang bekerja di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan. Iamenyebut sekitar 30 sampai 40 persen masyarakat desa masih bergantung pada sektor tersebutsehingga penguatan pangan akan berdampak langsung terhadap kesejahteraan rakyat.Zulkifli Hasan menilai persoalan pangan di Indonesia tidak hanya terletak pada produksi, melainkan juga tingginya biaya distribusi. Ia mencontohkan biaya distribusi beras di Thailand yang jauh lebih rendah dibandingkan Indonesia. Kondisi itu dinilai terjadi akibat rantai distribusiyang panjang dan kebijakan yang belum efisien. Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintahmenyiapkan sejumlah regulasi termasuk Peraturan Presiden guna memangkas biaya distribusi, memperpendek rantai pasok, dan membuat harga pangan lebih stabil serta terjangkau.Pemerintah juga terus mendorong pemanfaatan lahan produktif di berbagai daerah. PresidenPrabowo disebut mengarahkan agar setiap desa memiliki pusat ekonomi produktif dan tidak adalahan yang dibiarkan kosong. Penguatan teknologi pertanian menjadi bagian penting dalamstrategi tersebut dengan melibatkan perguruan tinggi, lembaga riset, alumni Institut PertanianBogor, serta BRIN. Kolaborasi itu diharapkan mampu mempercepat modernisasi pertaniannasional sehingga produktivitas pangan dapat meningkat secara berkelanjutan.Perhatian pemerintah turut diarahkan kepada sektor nelayan yang selama ini dinilai memilikiposisi tawar lemah di pasar. Zulkifli Hasan menjelaskan bahwa nelayan sering harus menjualhasil tangkapan dengan cepat sebelum rusak sehingga harga jual menjadi tidak optimal. Untukmembantu nelayan, pemerintah menyiapkan pembangunan kampung nelayan dan memperkuatperan Koperasi Desa Merah Putih sebagai pembeli hasil tangkapan ketika pasar tidak mampumenyerap produksi.Koperasi Desa Merah Putih juga diproyeksikan menjadi pusat ekonomi desa yang mendukungberbagai program pemerintah, termasuk penyediaan kebutuhan Satuan Pelayanan PemenuhanGizi dan Program Makan Bergizi Gratis. Kehadiran koperasi tersebut diharapkan mampumembuat distribusi bantuan pemerintah menjadi lebih cepat, ringkas, dan tepat sasaran hingga ketingkat desa.Ketua Umum terpilih Himpunan Alumni IPB Fauzi Amro menyatakan pihaknya siapmendukung penguatan rantai pasok pangan nasional melalui jaringan alumni yang tersebar di berbagai daerah. Dukungan itu akan difokuskan pada pembangunan model distribusi panganyang lebih efektif, khususnya untuk memenuhi kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis. Keterlibatan dunia akademik dan alumni perguruan tinggi dinilai menjadi bagian penting dalammemperkuat ketahanan pangan nasional.Di daerah, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat juga memperkuat langkah kolaboratif gunamendukung target swasembada pangan nasional 2026. Salah satu fokus utama adalahpengembangan komoditas jagung melalui program Gerakan Tanam Jagung Hibrida. Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan menyebut program tersebut menjadi langkahnyata dalam memperkuat ketahanan pangan mulai dari desa hingga tingkat nasional.Menurut Krisantus Kurniawan, program itu sejalan dengan visi pemerintahan Presiden PrabowoSubianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka melalui Astacita yang menekankanpentingnya kemandirian bangsa melalui ketahanan pangan, energi, dan ekonomi hijau. Ia jugamenilai penguatan sektor pertanian sejalan dengan visi pembangunan Kalimantan Barat yang ingin menciptakan daerah yang sejahtera, adil, dan berwawasan lingkungan.Sepanjang Januari hingga Desember 2025, Kalimantan Barat mencatat luas panen jagungmencapai 34.503 hektare dengan produksi sebesar 179.246 ton pipilan kering. Capaian itumenunjukkan potensi besar daerah dalam mendukung ketahanan pangan nasional. KabupatenBengkayang disebut memiliki potensi besar sebagai salah satu sentra pengembangan jagung di Kalimantan Barat.Krisantus juga mengajak pemerintah kabupaten dan kota, kelompok tani, serta unsur TNI danPolri untuk aktif mendukung program optimalisasi lahan pertanian. Menurutnya, lahan yang belum produktif perlu dimanfaatkan menjadi sumber pangan baru yang mampu memperkuatekonomi masyarakat dan menopang ketahanan pangan nasional.Dalam setahun terakhir, pemerintah dinilai mulai menunjukkan langkah nyata dalammemperkuat fondasi ketahanan pangan nasional. Berbagai program seperti penguatan koperasidesa, percepatan distribusi pupuk, pembangunan infrastruktur pertanian, hingga peningkatanproduksi komoditas strategis menjadi bagian dari upaya tersebut. Pemerintah ingin memastikanketahanan pangan tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar memberi dampak terhadapkesejahteraan masyarakat.Ketahanan pangan pada akhirnya hanya dapat dicapai melalui sinergi yang berkelanjutan antarapemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, petani, nelayan, aparat keamanan, danmasyarakat luas. Dengan semangat gotong...
- Advertisement -

Baca berita yang ini