Pengamat Nilai Presiden Jokowi Komitmen Antisipasi Gejolak Harga Pangan

Baca Juga

Jakarta – Pengamat Pertanian Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori mengungkapkan bahwa Pemerintah sejauh ini memiliki komitmen kuat mengantisipasi gejolak harga pangan yang diakibatkan oleh perubahan geopolitik hingga Fenomena El Nino.

“Sejak Covid-19 Pemerintah sudah cukup intens dan fokus kepada masyarakat miskin dan yang rentan miskin melalui berbagai bantuan maupun jaring pengaman sosial” ucap Khudori.

“Termasuk apa yang dilakukan sejak tahun lalu, ketika harga beras itu tinggi pemerintah melalukan operasi pasar maupun bantuan sosial yang terus berlanjut hingga tahun ini” imbuhnya.

Pengamat Pertanian AEPI itu mengungkapkan bahwa beberapa kebijakan pemerintah dalam mengantisipasi gejolak harga pangan itu relatif berhasil di masyarakat. Ia mencontohkan salah satu kebijakan yang terbilang sukses adalah bantuan beras.

Menurutnya gejolak harga beras sudah mulai terjadi sejak Agustus tahun 2022 hingga Maret 2023. Pemerintah kemudian bergerak cepat dengan menyalurkan bantuan beras dan mampu menahan kenaikan harga.

“Ketika bantuan beras tidak lagi diberikan, yakni Juli-Agustus, harga beras tinggi lagi” tuturnya.

Selanjutnya, Ia menekankan bahwa kebijakan Pemerintah dalam mengantisipasi gejolak harga pangan memang sangatlah berorientasi pada masyarakat bawah.

Kebijakan itu, imbuh Khudori, dapat dipahami karena kenaikan harga pangan akan mengganggu daya beli masyarakat.

“Jika harga beras tinggi maka daya beli mereka akan terganggu bahkan orang yang hanya beberapa jengkal diatas garis kemiskinan itu bisa jatuh miskin.” terangnya.

Tak hanya itu, Pemerintah juga aktif mengamankan cadangan beras untuk mengantisipasi potensi gagal panen. Salah satunya adalah dengan membuka keran impor beras.

Dirinya pun berharap Pemerintah dapat mengantisipasi sejumlah momentum yang dapat meningkatkan konsumsi beras seperti masa Pemilu.

“Selain itu ada Ramadhan dan disambut momentum Idul Fitri di April dan itu juga momentum” jelasnya.

Di tempat terpisah, Ketua Gerakan Cinta NKRI Provinsi Papua Barat, Napoleon Fakdawer menilai bahwa kebijakan Presiden Jokowi untuk mewujudkan kedaulatan pangan, sudah tepat.

“Membangun ketahanan pangan di Papua memang tak semudah membalikkan telapak tangan karena ada sejumlah tantangan yang menghadang” ucapnya.

Kedaulatan pangan, kata Napoleon, merupakan salah satu tujuan pembangunan nasional yang harus diwujudkan. Oleh karenanya, diperlukan kerjasama antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta.

“Tak hanya pemerintah, masyarakat juga berperan penting dalam menjaga kedaulatan pangan di Indonesia.” Jelas Napoleon

Ia pun mengajak masyarakat untuk ikut mendukung para petani lokal agar dapat lebih berdaya.

“Masyarakat bisa mendukung petani lokal dengan melakukan pembelian produk-produk dari petani lokal” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Hilirisasi untuk Ekonomi yang Lebih Sejahtera

Oleh: Yusuf Rinaldi)* Transformasi ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir semakinmenunjukkan arah yang jelas, yaitu dengan memperkuat nilai tambah sumber dayaalam melalui strategi hilirisasi. Kebijakan ini bukan sekadar agenda industrialisasibiasa, melainkan fondasi penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.  Dalam konteks ekonomi global yang semakin kompetitif, langkah pemerintahmempercepat hilirisasi menjadi salah satu strategi paling rasional untuk memastikankekayaan alam Indonesia benar-benar memberi manfaat optimal bagi masyarakat. Presiden Prabowo Subianto memerintahkan jajarannya untuk memperkuat peranPerusahaan Mineral Nasional (Perminas) sebagai instrumen negara dalammengelola sumber daya mineral secara lebih terintegrasi. Langkah ini sangat penting mengingat selama bertahun-tahun Indonesia lebihbanyak mengekspor bahan mentah tanpa nilai tambah yang signifikan. Denganpenguatan Perminas, pemerintah ingin memastikan bahwa pengelolaan mineral tidak lagi berhenti pada aktivitas eksplorasi dan penambangan, tetapi dilanjutkanhingga tahap pengolahan industri bernilai tinggi di dalam negeri. Presiden menekankan bahwa penguatan Perminas akan menjadi kunci bagiterciptanya pengelolaan sumber daya mineral yang lebih terpadu. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi mampu berkembangmenjadi pusat produksi dan inovasi industri mineral di tingkat global. Langkah inisemakin relevan jika melihat tren investasi nasional. Data terbaru menunjukkanbahwa sektor hilirisasi menyumbang sekitar Rp584,1 triliun atau 30,2 persen daritotal realisasi investasi nasional pada 2025. Angka tersebut mencerminkan bahwatransformasi ekonomi berbasis nilai tambah mulai memberikan dampak nyata bagipertumbuhan ekonomi. Selain penguatan kelembagaan, pemerintah juga mendorong pembangunaninfrastruktur industri melalui pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK). Pemerintah saat ini tengah menunggu persetujuan Presiden atas pembentukanenam KEK baru yang akan difokuskan pada industri berbasis energi dan manufakturberteknologi tinggi. Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, menjelaskan bahwa seluruh kajian teknis telah rampung dan kinimenunggu keputusan presiden. Ia mengatakan pihaknya sedang mengusulkan adaenam KEK baru yang akan diresmikan atau disetujui oleh Presiden. Keenamkawasan tersebut akan tersebar di berbagai wilayah strategis, termasuk Kalimantan, Sulawesi, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Fokus industrinya meliputi pengembangankendaraan listrik, smelter pengolahan mineral strategis seperti nikel, hinggapengembangan energi hijau. Strategi ini tidak hanya memperkuat hilirisasi, tetapijuga menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah. Secara kinerja,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini