Penderita TBC Rawan Terkena Virus Corona?

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Tuberkolosis (TB) yang juga akrab disapa dengan singkatan TBC ini merupakan penyakit menular yang menyebabkan masalah kesehatan terbesar. Namun, di masa pandemi Covid-19 ini, pengidap TBC akan langsung menghadapi gejala kritis bila terpapar virus Corona.

Penyakit TBC disebabkan oleh basil dari bakteri Mycobacterium tuberculosis. TBC sendiri dapat menyerang bagian tubuh manapun, tapi umumnya TBC akan menyerang paru-paru.

Penyebaran penyakit ini sama seperti penyebaran Covid-19 yaitu melalui droplet seperti saat seseorang pengidap TBC yang batuk atau bersin. Air liur yang telah tekontaminasi kemudian terhirup oleh orang sehat yang kekebalan tubuhnya lemah.

Meski penyakit ini umumnya menyerang paru-paru, namun hal tersebut dapat memberikan dampak pada bagian tubuh lain juga seperti, sistem saraf pusat, jantung, kelenjar getah bening, dan lainnya.

Perlu diketahui, Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan jumlah pengidam TBC terbanyak di Asia Tenggara dengan jumlah pengidap yang mencapai 305.00 jiwa (data tahun 2012). WHO menempatkan TBC menjadi penyakit yang berada di peringkat 1 sebagai penyakit paling mematikan dan di tingkat internasional, Indonesia juga menempati peringkat 3 dengan jumlah penderita TBC terbanyak setelah India dan Cina.

Bila TBC tidak diberikan perawatan yang benar dan obat, maka kemungkinan 50% orang yang mengidapnya akan meninggal. Namun, di Indonesia hanya terdapat 1 dibanding sepuluh kasus yang berkembang menjadi TBC aktif.

Untuk kasus ini, bakteri yang menyebabkan TBC belum aktif secara klinis dan hanya berada dalam tubuh penderita. Jika bakteri tersebut sudah aktif, akan terjadi gejala pada periode tertentu dalam hitungan minggu maupun tahunan. Durasinya tergantung pada daya tahan dan kondisi kesehatan dari pengidapnya.

Orang-orang yang memiliki resiko lebih tinggi tertular TBC merupakan orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah, contohnya pengidap diabetes, orang yang sedang menjalani rangkaian kemoterapi, dan juga pengidap HIV/AIDS. Selain itu orang yang mengalami malanutrisi atau kekurangan gizi, pecandu narkoba, para perokok, para petugas medis yang sering berhubungan degan pengidap TBC juga berpotensi lebih tinggi tertular TBC.

Gejala yang ditimbulkan pada penderita TBC adalah batuk berdahak lebih dari dua minggu dan dapat disertai darah, sesak nafas, demam, lemah, nafsu makan menurun, berkeringat di malam hari, dan berat badan yang menurun. Walaupun TBC mudah menular dan menyebabkan kematian, penyakit ini tetap dapat disembuhkan dengan meminum obat secara teratur sampai dinyatakan sembuh oleh okter dan bisa memutus rantai penularan TBC.

Di saat mewabahnya virus Corona ini, para pengidap TBC patut waspada terhadap kondisi kesehatannya. Apalagi daya tahan tubuh dan kondisi paru-paru mereka sangat mudah terinfeksi. Bagi pengidap TBC yang tengah melakukan masa pemulihan, menjaga daya tahan tubuh dan konsumsi obat secara teratur sangatlah penting untuk menghindari infeksi berkelanjutan.

Gejala batuk akibat infeksi virus Corona yang memiliki nama resmi SARS-CoV2 itu bersifat akut sedangkan, batuk akibat penyakit TBC dikenal bersifat kronis.

Reporter : Anggita Ayu Pratiwi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Stabilitas Keamanan sebagai Jalan Menuju Kesejahteraan

Oleh: Yonas Wenda*Stabilitas keamanan di Papua bukan sekadar kebutuhan jangka pendek, melainkanfondasi strategis bagi terwujudnya masa depan yang damai, sejahtera, dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat. Dalam beberapa waktu terakhir, pendekatanyang dilakukan aparat keamanan menunjukkan arah yang semakin konstruktif, dengan menempatkan sisi kemanusiaan sebagai inti dari setiap langkah. Pendekatanini tidak hanya memperkuat rasa aman, tetapi juga membangun optimisme kolektifbahwa Papua sedang bergerak menuju fase baru yang lebih stabil dan penuhharapan.Kehadiran aparat keamanan di tengah masyarakat kini semakin dirasakan sebagaibagian dari solusi, bukan sekadar instrumen penegakan hukum. Melalui patroli rutin, pengamanan aktivitas masyarakat, serta interaksi yang lebih humanis, negara menunjukkan komitmennya dalam melindungi seluruh warga tanpa terkecuali. Situasi yang aman dan kondusif memungkinkan masyarakat menjalankan aktivitassosial, ekonomi, dan keagamaan dengan lebih tenang, yang pada akhirnyaberdampak langsung terhadap peningkatan kualitas hidup.Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Faizal Ramadhani, menegaskan bahwapendekatan humanis menjadi strategi utama dalam menjaga stabilitas keamanan di Papua. Ia menyampaikan bahwa Polri hadir bukan hanya untuk menjaga ketertiban, tetapi juga untuk memberikan rasa nyaman dan membangun kepercayaanmasyarakat. Pernyataan tersebut mencerminkan transformasi pendekatan keamananyang semakin adaptif terhadap kebutuhan sosial masyarakat Papua, di mana kepercayaan menjadi modal utama dalam menciptakan ketertiban yang berkelanjutan.Hal senada disampaikan oleh Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, AdarmaSinaga, yang menekankan pentingnya konsistensi kehadiran aparat di lapangan. Ia menyatakan bahwa setiap aktivitas masyarakat, termasuk ibadah, harus dapatberlangsung dengan aman sebagai bagian dari hak dasar warga negara. Konsistensiini menjadi bukti nyata bahwa negara tidak pernah abai terhadap kondisi masyarakatPapua, melainkan terus hadir untuk memastikan rasa aman terjaga di setiap linikehidupan.Lebih dari itu, stabilitas keamanan yang terjaga juga memberikan dampak positifterhadap percepatan pembangunan di Papua. Dengan situasi yang kondusif, berbagai program pemerintah dapat berjalan lebih optimal, mulai dari pembangunaninfrastruktur, peningkatan layanan pendidikan, hingga penguatan sektor ekonomiberbasis masyarakat. Dalam konteks ini, keamanan dan pembangunan memilikihubungan yang saling menguatkan,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini