Oleh: Rivka Mayangsari*)
Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto terus menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat sistem kesehatan nasional, khususnya pada aspek promotif dan preventif. Salah satu terobosan utama yang dinilai efektif dan berdampak luas adalah Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), yang kini menjadi pilar strategis dalam upaya membangun masyarakat Indonesia yang lebih sehat, produktif, dan berdaya saing. Program ini tidak hanya menghadirkan layanan kesehatan tanpa biaya, tetapi juga mengubah paradigma masyarakat dari berobat saat sakit menjadi menjaga kesehatan sejak dini.
Presiden Prabowo Subianto secara tegas menempatkan CKG sebagai bagian dari transformasi layanan kesehatan nasional. Program yang digagas oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ini dirancang untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi, baik dari sisi ekonomi maupun wilayah. Sepanjang tahun 2025, pelaksanaan CKG mencatat capaian yang sangat signifikan dan mendapat apresiasi luas dari publik. Tingginya partisipasi masyarakat menjadi bukti nyata bahwa kehadiran negara dalam layanan kesehatan dasar benar-benar dirasakan manfaatnya.
Data mutakhir Kemenkes menunjukkan bahwa hingga akhir 2025, jumlah masyarakat yang memanfaatkan layanan CKG telah menembus lebih dari 70 juta peserta. Berdasarkan laporan harian, tercatat sebanyak 70.292.151 orang hadir dari total 73.128.356 pendaftar, atau setara dengan tingkat kehadiran mencapai 96,12 persen. Angka ini mencerminkan tingkat kepercayaan publik yang sangat tinggi terhadap layanan kesehatan gratis yang disediakan pemerintah. Capaian tersebut sekaligus menegaskan bahwa CKG bukan sekadar program simbolik, melainkan kebutuhan nyata masyarakat.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyampaikan bahwa antusiasme masyarakat terhadap CKG merupakan indikator meningkatnya kesadaran publik akan pentingnya deteksi dini penyakit. Menurutnya, banyak penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan gangguan metabolik dapat dicegah atau dikendalikan lebih baik apabila terdeteksi sejak awal. Oleh karena itu, CKG dinilai sangat relevan dalam menekan beban pembiayaan kesehatan jangka panjang sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Secara keseluruhan, evaluasi pelaksanaan CKG 2025 mencatat bahwa program ini telah menjangkau sekitar 70,8 juta orang atau setara 24,9 persen dari total penduduk Indonesia. Capaian tersebut menjadi dasar optimisme pemerintah untuk memperluas jangkauan CKG pada tahun 2026. Kemenkes menargetkan cakupan CKG mencapai 46 persen dari total penduduk, mencakup seluruh kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia. Target ambisius ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam membangun fondasi kesehatan nasional yang kuat dan berkelanjutan.
Program CKG juga dinilai sebagai tonggak penting dalam sejarah sistem kesehatan Indonesia. Untuk pertama kalinya, pemerintah menyediakan layanan cek kesehatan yang dapat diakses seluruh warga negara tanpa biaya, sebagai bagian dari transformasi layanan kesehatan yang menitikberatkan pada upaya promotif dan preventif. Kebijakan ini sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto untuk menciptakan sumber daya manusia yang sehat, unggul, dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Keberhasilan pelaksanaan CKG tidak terlepas dari dukungan ribuan tenaga kesehatan di seluruh Indonesia. Program ini dilaksanakan di 38 provinsi, melibatkan 514 kabupaten/kota, serta didukung oleh lebih dari 10.000 fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas, klinik, dan fasilitas kesehatan lainnya. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta tenaga kesehatan di lapangan menjadi kunci utama keberlanjutan dan efektivitas program ini.
Di tingkat daerah, animo masyarakat terhadap CKG juga terlihat, salah satunya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menilai CKG sebagai instrumen penting dalam mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Pengelolaan Data serta Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, Lana Unwanah, menekankan bahwa idealnya CKG dilakukan minimal satu kali dalam setahun oleh setiap warga negara.
Meski demikian, Lana mengakui bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya CKG masih perlu terus ditingkatkan. Fasilitas yang telah disiapkan di puskesmas belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal. Pada tahun 2025, target cakupan CKG di Kota Yogyakarta sebesar 36 persen memang berhasil tercapai, namun masih terdapat sebagian masyarakat yang memiliki stigma negatif, seperti anggapan bahwa lebih baik tidak mengetahui penyakit yang diderita. Padahal, melalui CKG, potensi penyakit tidak menular dapat dicegah dan ditangani sejak dini sebelum berkembang menjadi lebih serius.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa selain penyediaan layanan, edukasi publik juga menjadi aspek penting dalam keberhasilan CKG. Pemerintah pusat dan daerah terus memperkuat sosialisasi agar masyarakat memahami bahwa mengetahui kondisi kesehatan sejak awal justru menjadi langkah bijak untuk menjaga kualitas hidup. Dengan deteksi dini, risiko komplikasi dapat ditekan, biaya pengobatan dapat diminimalkan, dan produktivitas masyarakat dapat tetap terjaga.
Sebagai salah satu program quick win Presiden Prabowo Subianto, CKG diharapkan menjadi fondasi kuat dalam membangun budaya sadar kesehatan di tengah masyarakat. Ke depan, perluasan cakupan, penguatan kualitas layanan, serta integrasi data kesehatan nasional akan semakin memperkuat posisi CKG sebagai instrumen strategis pembangunan kesehatan. Dengan komitmen politik yang kuat dan dukungan masyarakat luas, Program Cek Kesehatan Gratis diyakini akan menjadi warisan penting dalam mewujudkan Indonesia yang lebih sehat, tangguh, dan sejahtera.
*) Pemerhati kesehatan masyarakat
